Zero Dweeling Time di Teluk Lamong

Deo/FL/S-25
22/5/2015 00:00
Zero Dweeling Time di Teluk Lamong
(MI/ABDUS S)
KURANG efisiennya manajemen logistik nasional menyebabkan logistics performance index Indonesia duduk di peringkat ke-53 dunia. Pasalnya, biaya pengiriman barang menjadi lebih tinggi tatkala dibandingkan dengan negaranegara lain di Asia Tenggara.

Di pelabuhan, waktu proses pengeluaran barang dari pelabuhan atau dwelling time menjadi momok yang melanda pelabuhanpelabuhan di Tanah Air. Selain memperlamban kinerja operator pelabuhan, dwelling time juga menjadi penyebab mahalnya ongkos logistik bongkar muat barang di pelabuhan. Di Tanjung Priok, Jakarta, misalnya. Untuk menunggu tambat saja, biaya sebesar US$20 ribu per hari harus dikeluarkan.

Namun, situasi semacam itu hampir tidak bakal terjadi di Terminal Multiguna Teluk Lamong (TTL), Surabaya, Jawa Timur.Dilengkapi dengan beragam fasilitas pelayanan bongkar muat canggih, terminal milik PT Pelabuhan Indonesia III (persero) itu menjanjikan 'zero dwelling time'. Kapal-kapal pun tidak perlu antre untuk bisa merapat ke pelabuhan.

Efisiensi juga dihasilkan dari penerapan sistem daring yang membantu menekan harga logistik karena mekanisme prosesnya lebih cepat. Selain itu, peluang praktikpraktik yang menyimpang juga dipersempit.

"Di Teluk Lamong itu sepi karena tidak ada kantor pelayanan. Itu juga bisa menekan biaya untuk para pelanggan, bea cukai, dan shipping juga sudah online," ungkap Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia III Djarwo Surjanto di Jakarta, Selasa (19/5).

Selain itu, lanjut dia, waktu tambat barang di pelabuhan juga terpangkas dengan dipasangnya crane atau alat pemindah kontainer dari dermaga ke kapal di dermaga internasional dengan kemampuan pindah 20 kaki dan twin lift (angkut ganda).

"Waktu tambat di dermaga akan lebih cepat, di lapangan kita targetkan empat hari atau setengahnya dari Tanjung Priok yang antara 8 dan 10 hari," imbuhnya.

Tidak berhenti di Teluk Lamong, Pelindo III juga masih mengejar pembangunan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang menggabungkan kawasan pelabuhan dan kawasan industri dalam satu area seluas 2.500 hekatre. Proyek tersebut direncanakan beroperasi pada 2017.

Generator KTI
Gubernur Jawa Timur Soekarwo meyakini TTL yang akan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 21 Mei 2015 itu dapat menjadi salah satu generator ekonomi kawasan timur Indonesia.

"Selama ini, banyak pengusaha yang lebih memilih melirik pelabuhan di Singapura dan Jakarta.Padahal Surabaya sangat mampu membuat itu," kata Soekarwo di Surabaya, Senin (18/5).

Terminal ini menjadi salah satu proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), khususnya untuk koridor Jawa. Kehadiran TTL diproyeksikan dapat memangkas biaya logistik hingga 20%.

"Terminal Teluk Lamong tidak bisa dianggap enteng keberadaannya. Di sinilah ekonomi Indonesia Timur bakal tumbuh karena semua interkoneksi dengan pelabuhan lainnya," ucap Soekarwo.

Keberadaan TTL diperkirakan menopang pertumbuhan perekonomian Jatim pada sektor perdagangan.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Jatim pada 2012 lalu, sektor perdagangan menyumbang 22,3% pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut.

Hal itu wajar mengingat Jatim merupakan pintu gerbang perdagangan wilayah timur Indonesia dengan Tanjung Perak sebagai salah satu fondasi strategisnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya