KERAJAAN Majapahit yang berdiri pada 1293-1500 Mdianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Menurut Negarakertagama, kekuasaan kerajaan yang berpusat di Jawa Timur itu terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur.
Banyak literatur sejarah yang meyakini bahwa perdagangan via laut menjadi salah satu penyokong pilar perekonomian yang membuat Majapahit bisa bertahan hingga ratusan tahun lamanya.
Posisi strategislah yang menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu jalur laut tradisional yang rutin disinggahi pedagang Arab, India, dan Tiongkok. Banyak kapal-kapal layar dari pulau-pulau Nusantara dan luar Nusantara yang berlabuh di bandar-bandar Majapahit, seperti di Tuban, Lasem, Gresik, dan Ujung Galuh.
Becermin pada bukti kejayaan di masa lalu itulah, tekad Indonesia menjadi poros maritim dunia bergaung kembali di masa pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Jawa Timur menjadi lokomotif terdepannya.
Provinsi berpenduduk sekitar 40 juta jiwa itu memegang peranan penting secara nasional dan memiliki tingkat perekonomian nomor dua terbesar secara nasional setelah DKI Jakarta. Selama ini, Jawa Timur menjadi urat nadi perekonomian kawasan Indonesia Timur (KTI).
Untuk masuk ke Jawa Timur, salah satu pintu masuk yang ramai dilalui ialah Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Pelabuhan yang dibangun pada 1910 itu kian padat dan menjadi andalan utama jalur distribusi barang dari wilayah Jawa Timur ke wilayah lain, termasuk ke negeri tetangga.
Kepadatan itulah yang mendasari PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) selaku operator Pelabuhan Tanjung Perak untuk melakukan riset. Hasilnya, pelabuhan tersebut dikhawatirkan mengalami kelebihan kapasitas (over capacity).
Setidaknya dalam 5 tahun terakhir, arus peti kemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak menunjukkan pergerakan positif.
Pada 2014, pencapaian arus bongkar muat Pelindo III Tanjung Perak, terutama peti kemas domestik mencapai 3,8 juta Teus, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 2,9 juta Teus.
Kenaikan juga terjadi pada trafik bongkar muat curah kering dari 7,3 juta ton menjadi 8,6 juta ton.
Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo menyebutkan, wilayah Sulawesi, NTB dan NTT memang dikenal sebagai jalur laut pelayaran nomor dua terbesar di Indonesia. Selain itu, terdapat Selat Makassar dan Selat Lombok yang juga menjadi jalur pelayaran internasional.
Walhasil, kapal-kapal berbobot besar, katakanlah 200 ribu gross tonnage (GT) atau kapal besar berbobot 18.000 Teus mengincar jalur tersebut. Setidaknya, sebanyak 20 kapal berbobot raksasa melalui jalur pelayaran itu setiap harinya.
"Itu salah satu keuntungan dari kondisi poros maritim untuk wilayah timur. Makanya, harus kita dorong dengan pembangunan tol laut agar jalur pelayaran tersokong dengan baik. Karena potensinya besar sekali," ucap Indroyono saat ditemui Media Indonesia di Gedung BPPT, Jakarta, belum lama ini.
Konsep pengembangan tol laut akan mengandalkan sektor pelabuhan hub, pelabuhan utama, dan pelabuhan pengumpul yang akan menyalurkan barang dan logistik hingga ke kota-kota kecil.
Ada lima pelabuhan laut dalam (deep sea port) sebagai pelabuhan utama yang disiapkan untuk mendukung konsep tol laut, yakni Kuala Tanjung, New Tajung Priok, Teluk Lamong, New Makassar, dan Sorong.
Dari kelima pelabuhan, Teluk Lamong di Surabaya, Jawa Timur, yang dinilai paling siap mendukung program Tol Laut.Pelabuhan yang dibangun dan dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) III ini diproyeksikan menjadi pelabuhan peti kemas supermodern.
Khusus Pelabuhan Sorong di Papua Barat, sambung Indriyono, pengembangan pelabuhan akan diintegrasikan dengan kawasan ekonomi khusus (KEK). Saat ini, aktivitas KEK Sorong yang berada di sekitar pelabuhan mulai menggeliat ditandai dengan beroperasinya sejumlah pabrik, seperti semen, aspal, kayu lapis, pengolahan kelapa sawit, pengolahan perikanan, dan mebel.
Upaya lain yang dilakukan pemerintah untuk menekan biaya logistik di kawasan timur ialah membuka jalur penerbangan angkut barang perintis ke wilayah pedalaman. Dweeling time Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyambut baik realisasi konsep tol laut yang mengintegrasikan lalu lintas kapal dengan sejumlah infrastruktur di darat. Selain menurunkan biaya logistik di Indonesia, langkah tersebut sekaligus dapat mengoreksi harga berbagai moda transportasi, khususnya angkutan barang di penjuru Nusantara.
"Contoh, untuk rute SurabayaJakarta besaran biaya logistik dengan truk mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta. Kalau kereta api bisa Rp2,3 juta hingga Rp3 juta, sedangkan kapal laut Rp2 juta," ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Hengky Pratoko, di Surabaya, seperti dikutip dari Antara.
Keluhan pelaku usaha terkait dengan biaya logistik yang terhitung mahal bila mengangkut barang dari dan ke kawasan timur telah lama menjadi sorotan. Produktivitas kawasan timur yang tergolong rendah dan mengakibatkan tak banyak aktivitas pengiriman barang dari kawasan itu.
Untuk mempercepat arus barang di pelabuhan, pemerintah menargetkan penurunan masa kedatangan (dwelling time) dari 6 hari menjadi 4, 7 hari. Waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan barang dari kawasan pelabuhan sejak barang turun dari kapal makin singkat.
Tanjung Perak termasuk dari lima pelabuhan besar yang menjadi sasaran penurunan dweeling time bersama Belawan, Tanjung Priok, Makassar, dan Sorong.
Semua rencana yang disiapkan itu memberikan secercah harapan untuk mengembalikan lagi kejayaan maritim di Nusantara, dimulai dari Timur Indonesia. (FL/ Bow/S-4)