PENEMUAN beras sintesis di Bekasi, Jawa Barat membuat resah masyarakat dan pedagang di seluruh daerah. Pemerintah daerah dan aparat terkait pun mengambil langkah-langkah antisipatif untuk mencegahnya. Diduga, beras sintetis itu masuk ke Indonesia secara ilegal, karena hingga saat ini di Indonesia belum ada yang mampu secara teknologi membuat beras berbahaya tersebut. Oleh karena itu, Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perusahaan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Jawa Tengah meminta pemerintah mengawasi ketat pelabuhan-pelabuhan kecil yang diduga menjadi pintu masuk beras sintetis.
"Pengawasan pelabuhan yang berbatasan dengan negara tetangga harus diperketat," kata Bendahara Perpadi Jateng Joko Nur di Klaten, kemarin. Menurut Joko, yang juga sekretaris paguyuban mitra kerja Bulog Surakarta, beras itu masuk ke Indonesia karena peluang pasar besar. Dari pantauan di lapangan, penemuan beras sintetis di Bekasi itu mengakibatkan penurunan omzet. Willem, 48, pedagang di sebelah toko beras S di Pasar Tanah Merah Mutiara Gading, tempat penemuan beras sintetis (Media Indonesia, Rabu 20/5), mengaku omzetnya turun 30%. Biasanya, beras di tokonya bisa terjual sampai 1 ton dengan penghasilan sekitar Rp400 juta.
Namun, kemarin, beras hanya terjual 7 kuintal. "Ada kekhawatiran dari para pembeli," ujarnya. Terkait dengan kasus itu, Pemkot Bekasi pun telah mengambil sampel beras di tujuh pasar tradisional di wilayahnya untuk diuji laboratorium. "Hasil dari Badan POM keluar paling lambat besok (hari ini), dan Sucofindo 3 hari sampai 4 hari mendatang," ujar Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. Mengenai tindakan hukum, Kapolres Kota Bekasi Kombes Rudi Setiawan mengatakan hingga saat ini pihaknya masih memeriksa penjual beras, S, dan penjual bubur, Dewi, sebagai saksi. Para pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, pun mengaku terganggu dan khawatir omzet menurun.
Namun, menurut seorang pedagang, Ahmad, pihaknya yakin beras sintetis tidak ada di Pasar Induk Cipinang. Aman hingga Lebaran Pada bagian lain, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan stok beras nasional aman hingga Idul Fitri, karena hingga Ramadan masih ada panen di sejumlah daerah. Menurutnya, untuk bulan depan, stok sekitar 1,39 juta hektare. "Di sini harga beras Rp7.200/kg. Harga di pasar ini di bawah HPP Rp7.300/kg. Artinya, ketika harga beras di pasaran lebih rendah daripada HPP, berarti produksi meningkat dan beras untuk di dalam negeri
cukup," terang Amran saat sidak di Pasar Baru Cibinong, Jawa Barat, bersama Mendag Rachmat Gobel dan Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, kemarin. Hal senada disampaikan pedagang beras, Agustan. "Sekarang ini di daerah Grobogan (Jawa Tengah) mulai panen. Dua hari lalu saya konfi rmasi barangnya akan masuk," jelas Agustan. Mendag Rachmat Gobel kembali mengingatkan bahwa impor beras menjadi opsi terakhir bila di pasaran terjadi kekurangan suplai.