MEMBUBUNGNYA harga pangan di sejumlah daerah dalam tiga pekan terakhir lebih dipicu oleh hambatan distribusi. Oleh karena itu, untuk menstabilkan harga komoditas utama, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel memastikan pemerintah akan memperpendek waktu penyimpanan pangan di tingkat pedagang.
"Kami amankan harga pangan dengan memangkas waktu simpan. Semula tiga bulan, nanti lebih pendek lagi. Harga pangan naik karena distribusi tersendat," kata Gobel kepada Media Indonesia seusai menghadiri Forum Senator Ekonomi Kerakyatan di Jakarta, kemarin.
Gobel melanjutkan ulah pedagang besar menimbun pangan sehingga mengacaukan distribusi tersebut membuat harga beras, telur, daging ayam, dan cabai merah melambung tidak terhindarkan.
Dari Mojokerto, Jombang, Denpasar, Pangkal Pinang, Subang, dan Klaten kemarin dilaporkan harga telur ayam naik menjadi Rp23 ribu per kg dari sebelumnya Rp18 ribu. Harga cabai merah dari Rp23 ribu menjadi Rp50 ribu per kg. Harga beras C-4 super II naik Rp400 menjadi Rp8.800 dan C-4 super I Rp9.300 dari semula Rp8.700 per kg. Kemudian harga beras medium jenis mentik wangi mencapai Rp10.500 atau naik Rp600 dari harga di awal bulan ini.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengatakan seharusnya persediaan pangan pokok tidak menjadi persoalan lagi apabila pemerintah menjaga kelancaran distribusi.
"Amankan harga pangan secepatnya, tidak perlu menunggu puasa. Pemerintah seharusnya mengawasi kebutuhan, seperti beras, daging ayam, telur, dan cabai merah agar harganya stabil, termasuk menerbitkan perpres pengen dalian harga pangan sebagai referensi harga. Kalau harga cabai merah tembus Rp100 ribu, itu kan pedas," ujar Herman.
Anggota Komisi IV Firman Subagyo menambahkan pedagang dan importir besar kini yang berkuasa mematok harga. "Ini kan selalu berulang. Perpres nanti sebaiknya membuat pato kan harga terendah dan tertinggi."
Pengamat pertanian dari IPB Hermanto Siregar meminta pemerintah menjalin koordinasi dan komunikasi intensif dengan para pedagang besar untuk menjamin kelancaran distribusi pangan pokok. "Pedagang jangan dimusuhi, harus menjadi mitra. Bulog dan Kementerian Perdagangan tidak bisa mengatur distribusi pangan. Kemampuan justru ada di para pedagang besar."
Pengalihan distribusi Selain memangkas waktu penyimpanan pangan di tingkat pedagang, menurut Gobel, pemerintah pun mendorong distribusi lewat angkutan udara, laut, dan kereta api. "Ini strategis di masa panen untuk memperlancar distribusi. Realisasinya menjelang Ramadan."
Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub JA Barata mengakui pengalihan distribusi logistik dari jalur darat ke laut, udara, dan kereta api lebih efisien. "Truk-truk pangan kami angkut menggunakan kapal yang menyusuri pantai. Selain itu, kereta api didorong untuk mengurangi beban logistik di jalan."
Saat menyinggung perpres pengendalian harga pangan, lanjut Gobel, pemerintah masih harus merevisi draf terkait aturan stok pangan. "Mudahmudahan pekan ini terbit. Ke depan pemerintah bisa menentukan harga pangan pada situasi tertentu."
Perpres pengendalian pangan selain memberlakukan kebijakan harga khusus dan harga subsidi saat terjadi gejolak harga dan menetapkan harga acuan pada situasi normal, juga mengoptimalisasikan perdagangan antarpulau serta maksimalisasi sarana distribusi dan kelancaran moda transportasi barang (lihat grafik). (Uut/Mus/ Jay/Ami/FL/RS/RF/RZ/JS/X-4) dero@mediaindonesia.com
tanggapan Anda atas berita ini melalui e-mail: interupsi@mediaindonesia.com Facebook: Harian Umum Media Indonesia Twitter: @MIdotcom Tanggapan Anda bisa diakses di metrotvnews.com