KEJAYAAN maritim bangsa Indonesia sejak era kerajaan Sriwijaya dan Majapahit 'dikerdilkan' pada masa penjajahan Belanda. Pada era itu, laut dikuasai Belanda dengan armada dagangnya, yakni VOC.
''Mereka datang dengan kapal-kapal besar yang lebih canggih. Orang kita mungkin hanya punya kapal-kapal kecil. Bukan berarti budaya maritim itu hilang, tapi dikerdilkan. Ini yang harus dikembalikan,'' ungkap arkeolong Edi Sedyawati, saat ditemui di kediamannya di Kawasan Menteng, Jakarta, Senin (11/5).
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi hebat dalam dunia kemaritiman. Selain menjadi pusat keanekaragaman hayati, Indonesia juga dikenal sebagai negara kepulauan terbesar, memiliki potensi perikanan terbesar sebesar 65 juta ton per tahun, jumlah penduduk terbesar ke-4, posisi geografis dan geo-ekonomi paling strategis di dunia, dan potensi energi dan sumber daya mineral yang luar biasa.
Karena itulah, pakar kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menyatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali berjaya di laut. Dengan catatan, pembenahan serius perlu dilakukan di berbagai aspek. Pertama, kata Arif, pemerintah perlu menciptakan ''grand design'' jangka panjang untuk memaksimalkan potensi maritim. Pengaturan tata ruang di laut bisa menjadi pintu masuk guna membenahi sektor maritim.
''Harus jelas mana ruang yang untuk penambangan, jalur pelayaran, tol laut, pariwisata, dan perikanan rakyat. Jangan sampai pembangunan di wisata bahari malah mematikan perikanan rakyat misalnya. Tata ruangnya harus diatur,'' ujarnya.
Kedua, lanjut Arif, pemerintah harus memangkas birokrasi dan mempermudah perizinan. Untuk perizinan membangun pelabuhan misalnya. Agar efisien, perizinan dan persyaratan bisa didelegasikan ke satu instansi yang ditunjuk pemerintah.
''Begitu juga perizinan menangkap ikan. Ada 11 jenis persyaratan yang harus dipenuhi dari 4 kementerian. Alangkah baiknya kalau disiapkan di satu atap, jadi bisa lebih efisien,'' ujar dia. (Deo/S-25)