Peluang MEA Terbuka Lebar bagi Sucofindo

MI/Faw
08/5/2015 00:00
Peluang MEA Terbuka Lebar bagi Sucofindo
(MI/Adam dwi)
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau Pasar Bebas ASEAN pada akhir 2015 tidak perlu dicemaskan karena Indonesia sudah berpengalaman menjalin hubungan perdagangan internasional. Karena itu, pemerintah dan dunia usaha di tanah air perlu menyikapi pemberlakuan MEA sebagai peluang dan tantangan. Demikian disampaikan oleh Vice President PT Sucofindo (Persero), Ir Soleh Rusyadi Maryam, yang didukung oleh Dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Nasional, Jakarta, Zulkarnain SIP, M.Si., dalam Diskusi Publik "Menimbang Daya Saing Industri Indonesia dalam ASEAN Economic Community", diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) FISIP Universitas Nasional bekerjasama dengan Public Trust  Institute, dan SLI Komunika, di Ruang Seminar Selasar Lt. 3 Blok I Universitas Nasional, Jakarta, Jumat (7/5) pagi.
 
Menurut Soleh, saat ini ekspor Indonesia menguasai 25 persen pasar ASEAN. Masih lebih unggul dibandingkan dengan negara-negara lain. Karena itu, pemberlakuan MEA yang berarti penerapan tariff bea masuk 0 persen di negara-negara ASEAN diyakininya akan menjadikan Indonesia memiliki peluang yang lebih luas dalam menguasai pasar ASEAN. "Indonesia berpeluang menjadi Basis Produksi Industri disamping berpeluang menguasai pasar tenaga kerja,"kata Soleh Rosyadi.  Bahkan Vice President PT Sucofindo Persero itu meyakini, Indonesia berpeluang memperluas penguasaan pasar jasa unggulan, seperti konstruksi, kesehatan, komunikasi, dan pariwisata.
 
Yang perlu dilakukan dunia usaha dalam menguasai pasar ASEAN pada saat pemberlakukan MEA, lanjut Soleh, adalah meningkatkan efisiesi, inovasi, dan kualitas produk. Disamping itu, yang harus dilakukan adalah memperluas jaringan di kawasan, meningkatkan promosi produk di kawasan, meningkatkan penguasaan bahasa asing personelnya, dan meningkatkan ketrampilan personelnya melalui pelatihan dan sertifikasi.
 
Sementara terhadap BUMN Jasa Inspeksi sendiri, Soleh Rusyadi mengingatkan perlunya memperluas jaringan bisnis lewat kerjasama teknis, menambah laboratorium dan modernisasi alat; memperluas cakupan akreditasi sebagai Lembaga Inspeksi, Lembaga Uji, dan Badan Sertifikasi; disamping memperbanyak kerjasama peningkatan peningkatan kompetensi dengan Perguruan Tinggi (PT) dan pusat-pusat keunggulan lain.
 
Pengalaman
Sementara itu Dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Nasional, Jakarta, Zulkarnain SIP, M.Si. mengingatkan MEA 2015 tidak mungkin untuk dihindari. Karena itu, Indonesia dituntut untuk bekerja keras bagaimana meningkatkan daya saing industri tersebut sehingga memberi manfaat dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia sekaligus memajukan ekonomi nasional.
 
"Tentu ini bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan sejumlah strategi tertentu baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah, agar MEA 2015 membawa berkah bagi Indonesia," kata Zulkarnain.  Ia mengingatkan, meningkatkan daya saing industri Indonesia dalam MEA 2015 merupakan upaya kolektif yang harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan. Pelaku usaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta Masyarakat sebagai bagian dari pasar, lanjut Zulkarnain, adalah simpul-simpul kolektif yang harus bersinergi dalam meningkatkan daya saing industri tersebut.
 
"Daya saing industri mutlak dikedepankan oleh semua pihak yang terlibat dalam aktifitas perdagangan bebas tersebut.  Pemerintah harus secara terus menerus melakukan pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur yang dianggap prioritas dan relevan," tutur Zulkarnain.  Dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Nasional Jakarta itu mengemukakan, Indonesia sesungguhnya sudah sangat berpengalaman menjalin hubungan perdagangan internasional yang berbasis free trade. Oleh sebab itu,  MEA yang akan diberlakukan akhir tahun 2015 ini haruslah dipandang sebagai hal yang hiasa-biasa saja.
 
Ia juga mengingatkan, bahwa masyarakat perlu mendapat informasi-informasi menyeluruh terkait dengan skema MEA dan semua hal yang ditimbulkannya dari perspektif yang multidimensional. Zulkarnain mengemukakan, masyarakat harus secara terus menerus mengetahui dan memahaminya.  "Yang lebih utama adalah memberi penyadaran-penyadaran komprehensif agar masyarakat tidak mengambil posisi sebagai pemain pasif, melainkan mendorongnya untuk berperan secara aktif, dengan demikian makna pasar bebas MEA bagi masyarakat akan dengan sendirinya bergeser dari dimensi musibah menjadi dimensi berkah," tutur Zulkarnain.  Diskusi publik  dengan tema "Menimbang Daya Saing Industri dalam ASEAN  Economic Community" itu selain menghadirikan Zulkarnaen, S.IP, M.Si, juga menghadirka pembicara Ir Soleh Rusyadi Maryam, 
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya