Cadangan Beras Cukup Impor Pilihan Terakhir

Jay/Arv/Mus/FL/LD/X-10
09/5/2015 00:00
Cadangan Beras Cukup Impor Pilihan Terakhir
(MI/PATA AREADI)
DALAM strategi pengamanan harga, kebijakan impor komoditas pangan utama merupakan opsi terakhir yang akan dilakukan pemerintah.

Terkait kebutuhan beras, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel memastikan stok beras menjelang puasa dan Lebaran aman dengan harga stabil.

"Saat ini stok beras dalam kondisi aman dan harga terkendali. Kemendag bertanggung jawab terhadap ketersediaan dan stabilisasi harga komoditas pangan di pasar, sekaligus sebagai salah satu lembaga yang ikut menjaga pengendalian laju inflasi," ujarnya di kantornya, kemarin.

Rachmat menegaskan pemerintah akan terus berupaya mempertahankan stok beras melalui Bulog minimal 2 juta ton di akhir bulan ini dengan mengutamakan penyerapan beras dari petani.

"Impor itu pilihan terakhir dan ini juga dalam rangka melindungi petani menuju swasembada pangan," tegasnya.

Kemendag bersama Kementerian Pertanian dan Bulog akan melakukan audit data stok beras nasional di lapangan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan hasil audit ini nanti menjadi dasar untuk mengambil langkah strategis.

"Panen raya inikan sampai Mei, lihat hasilnya gimana baru dipertimbangkan. Kalau memang cadangan nasional di bawah 2 juta ton, akan dipertimbangkan (impor)," ujar JK di Istana Wakil Presiden, kemarin.

Terkait penyerapan beras dan gabah oleh Bulog, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengakui Bulog sulit menyerap beras produksi petani karena harga pembelian pemerintah (HPP) beras oleh Bulog saat ini di bawah harga jual beras petani yang dibeli pengusaha beras.

Harga beras versi Bulog hanya Rp7.300/kg, sedangkan harga jual beras ke pengusaha atau penggilingan mencapai Rp7.500/kg-Rp7.600/kg.

"Ini yang akan dihitung lagi, seberapa jauh penyerapan Bulog. "Berapa kurangnya akan kita impor. Impor perlu supaya jangan sampai inflasi meningkat. Jangan sampai harga beras melonjak," tegasnya.

Peneliti Indef, Sugiyono, berpendapat pengadaan beras oleh Bulog tidak efektif karena pendapatan perusahaan umum ini tidak sedang dalam kondisi surplus, dana yang diterima dari penanaman modal negara belum cukup untuk pengadaan beras.

"Dana untuk Bulog semestinya ditambah," ujarnya.

Dari pemantauan di berbagai daerah, serapan gabah dan beras petani oleh Bulog memang relatif rendah.

Bulog sulit bersaing dengan pengusaha yang berani membeli gabah atau beras petani lebih tinggi dari HPP.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya