RI Pertimbangkan Balik ke OPEC

Jessica Sihite
08/5/2015 00:00
RI Pertimbangkan Balik ke OPEC
()
BAK cinta lama balik kembali, idiom untuk yang sukar beranjak dari masa lalu, Indonesia mewacanakan masuk lagi ke Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang ditinggalkan pada 2008.

Wacana itu dilontarkan pemerintah karena menilai Indonesia dewasa ini tidak dapat mengikuti langsung dinamika pasar minyak dunia.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, kembalinya Indonesia di OPEC akan meningkatkan interaksi dengan negara-negara produsen minyak dunia.

"Kami ingin kembali aktif di OPEC sebagai peninjau. Tanggal 3-4 (Juni) saya akan hadiri konferensi OPEC. Kita jadi peninjau dulu supaya berinteraksi dengan pasar," ujarnya seusai melantik pejabat eselon I, eselon II, dan pejabat SKK Migas di Kantor Kementerian ESDM di Jakarta, kemarin.

Selain untuk interaksi, kehadiran Indonesia dalam jajaran OPEC juga demi mengamankan pasokan minyak impor.

Salah satu rencananya ialah menugasi PT Pertamina untuk melakukan kontrak jangka panjang dalam pembelian minyak impor.

"Sekarang masih mayoritas spot," tuturnya.

Perihal Indonesia yang kini bukan eksportir minyak, baginya bukan masalah karena saat ini toh Indonesia masih menjadi pengekspor gas.

"Sebenarnya kan kita ada ekspor sedikit, ekspor gas. Jadi enggak salah jadi anggota, entah di level peninjau atau member," cetus Sudirman.

Dirjen Migas IGN Wiratmaja Puja yang kemarin dilantik menambahkan, Indonesia sebenarnya masih mengekspor minyak walau berbentuk kondesat.

Adapun Indonesia mulai menjajaki peluang impor minyak mentah dari Iran, selain kerja sama investasi kilang.

"Suplai Iran sangat banyak. Harganya juga relatif bagus, tapi secara internasional, (Iran) masih diembargo. Jadi, belum bisa direct kerja sama," kata Wiratmaja yang saat pelantikan ditugasi Menteri ESDM untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dan mempercepat konversi ke bahan bakar gas.

Di pihak lain, wacana kembali ke OPEC mendapat kritik dari anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Fahmy Radhi sebagai kesia-siaan.

"Lifting minyak kita juga makin turun. Apa dengan kondisi itu kita masih bisa masuk OPEC? Itu tidak rasional," cetusnya.

Menurutnya, tidak perlu masuk ke OPEC jika untuk mempererat hubungan dengan negara produsen minyak.

Itu bisa dilakukan secara bilateral.

"Daya tawar OPEC untuk memengaruhi harga minyak juga tidak besar lagi karena sudah mengikuti harga pasar. Sepertinya akan sia-sia."

Naik 500%
Keinginan Indonesia mengamankan suplai impor berkaitan dengan konsumsi BBM di dalam negeri yang kian lahap.

Integrated Supply Chain (ISC) PT Pertamina bahkan mengestimasi penaikan impor pertamax lima kali lipat atau sekitar 513% pada tahun ini ketimbang tahun lalu.

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2015, ISC Pertamina membuat target impor pertamax 8,027 juta barel.

Tahun lalu realisasi impor pertamax hanya 1,309 juta barel.

VP ISC Pertamina Daniel Purba mengatakan peningkatan cukup ekstrem itu dilakukan sei-ring konsumsi pertamax yang melonjak 300%.

"Mungkin sudah banyak yang sadar enggak pakai premium," ucapnya.

Walakin, impor premium pun diproyeksi naik 12,46 juta barel dan solar 30,9 juta barel tahun ini.

Sementara itu, impor minyak mentah akan naik dari 853,96 million barrels crude per day (mbcd) menjadi 862,07 mbcd. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya