Mudik Gratis Beralih ke Laut

Wibowo
04/5/2015 00:00
Mudik Gratis Beralih ke Laut
(ANTARA/Zabur Karuru)
KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) berencana mengalihkan seluruh fasilitas angkutan mudik gratis untuk kendaraan roda dua pemudik ke moda transportasi laut tahun ini. Strategi itu dilakukan untuk mengurangi beban di jalan raya, khususnya pada jalur pantai utara (pantura) Jawa.

Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub JA Barata, akhir pekan lalu, di Jakarta, mengatakan Kemenhub akan menyiapkan empat kapal, yakni dua kapal milik PT Pelni (persero) dan TNI. Fasilitas angkut­an gratis untuk sepeda motor diharapkan mengurangi risiko kecelakaam

"Angkutan mudik gratis untuk kendaraan roda dua juga mereduksi waktu berkendara sepeda motor, bahan bakar, ataupun kerusakan kendaraan," paparnya.

Namun, angkutan gratis tersebut dipandang belum signifikan menekan tingginya angka kecelakaan di jalan raya. Pada periode mudik Lebaran 2014, tercatat 2.741 kecelakaan lalu lintas dengan 578 korban meninggal. Dari tahun ke tahun, angka kecelakaan dalam momen tersebut rata-rata didominasi kece­lakaan yang melibatkan kendaraan roda dua.

Ketidaksesuaian jadwal dan destinasi angkutan mudik gratis dengan keinginan pemudik menjadi salah satu kendala. Kerap kali, pemudik hanya memanfaatkan fasilitas itu pada masa arus mudik. Di masa arus balik, mereka mengendarai sepeda motor hingga tiba di tujuan.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan belum memadainya transportasi umum dari terminal/dermaga ke tempat tujuan di kampung halaman turut membuat pemudik enggan beralih dari kendaraan roda dua. "Bila tersedia, tarifnya mahal," ujar Djoko.

Oleh sebab itu, lanjut Djoko, pemerintah daerah (pemda) perlu mengatasi problem tersebut dengan menyediakan angkutan lanjutan yang terjangkau di kampung halaman pemudik.

Psikologis
Dalam menanggapi hal itu, Barata mengingatkan ada fasktor psikologis yang berperan dalam keputusan pemudik memakai kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor. Mereka ingin menunjukkan keberhasilan bekerja di luar kampung halaman. "Jadi, bukan semata-mata ketidaksiapan pemda dalam angkutan lanjutan."

Kendaraan roda dua juga memudahkan pemudik untuk beraktivitas di kampung halaman. Pun biayanya lebih murah ketimbang angkutan umum. "Sepeda motor itu sebagai sa­lah satu yang dianggap efektif buat pe­mudik, selain murah," tambah Barata.

Di sisi lain, awak angkutan umum di daerah biasanya juga ingin merayakan Hari Raya Lebaran. Bila di­minta untuk tetap melayani, mereka menuntut kompensasi, seperti tambahan upah. Itu sulit dipenuhi pengusaha lokal yang menyediakan jasa angkut.

Di samping kesiapan angkutan mudik, pemerintah berupaya mendorong penyelesaian tol trans-Jawa dan mengawali konstruksi tol trans-Sumatra. Pada Kamis (30/4), Presiden Joko Widodo meresmikan di-mulainya pembangunan Tol Trans-Sumatra dan peletakan batu pertama pembangunan ruas Tol Surakarta-Ngawi-Kertosono dengan panjang total 177,12 km. Ruas Surakarta hingga Kertosono itu dijadwalkan rampung dalam tiga tahun.

Tol Trans-Jawa tuntas bila ruas Pemalang-Batang dan Semarang-Batang dapat dibangun dan diselesaikan. Pembangunan kedua ruas masih terkendala pembebasan lahan. (ST/NV/FR/Mus/E-1)

wibowo.red@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya