RAPAT umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Astra Internasional Tbk (ASII) menyepakati penggunaan sebagian laba bersih tahun buku 2014 untuk dibagikan sebagai dividen tunai. Jumlahnya sebesar Rp8,74 triliun atau setara dengan Rp216 per lembar saham. "Dividen interim Rp64 per saham telah dibayarkan pada 31 Oktober 2014, sehingga selebihnya sebesar Rp152 per lembar saham akan dibayarkan pada 29 Mei 2015," papar Direktur Utama Astra International Tbk Prijono Sugiarto seusai RUPST di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan, perseroan juga menyepakati sisa laba bersih perseroan yang sebesar Rp10,43 triliun menjadi laba ditahan perseroan. Pada 2014, Astra International Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp19,18 triliun. RUPST Astra International Tbk menyepakati penunjukan mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Kyoichi Tanada, sebagai komisaris independen. Perseroan juga mengangkat Gunawan Geniusahardja sebagai direktur independen, dan Djony Bunarto Tjondro sebagai direktur perseroan.
"Terhitung sejak perubahan anggaran dasar perseroan terkait masa jabatan dewan komisaris yang berlaku efektif sampai dengan RUPS tahunan 2017, kecuali untuk Mari Elka Pangestu, M Chatib Basri dan Kyoichi Tanada sampai dengan RUPS tahunan 2018," papar Prijono. Dalam kesempatan itu, Prijono mengungkapkan perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp13 triliun pada tahun ini untuk mengembangkan usaha.
"Capex sebesar Rp13 triliun, secara konsolidasi biasanya digunakan untuk membangun outlet kami yakni Toyota dan Daihatsu dengan biaya paling sedikit sekitar Rp500 miliar," tutur Prijono. Capex juga dipakai untuk pengembangan anak-anak usaha ASII, seperti Astra Otoparts dan Astra Agro Lestari yang masing-masing mendapatkan Rp2 triliun-Rp3 triliun. Kemudian United Tractors mendapat sekitar Rp5 triliun untuk pengembangan usaha. "Sekitar 20% dana belanja modal perseroan sudah terserap di kuartal I 2015," kata Prijono Sugiarto.