TIDAK semua orang dapat seberuntung --jika boleh disederhanakan begitu--Isaac Newton yang menemukan konklusi dari teori gravitasinya saat duduk-duduk merenung di bawah pohon apel.
Berpikir keras sembari duduk terus-menerus kadang hanya membuahkan kebuntuan. Diceritakan Igor Perisic, Deputi CEO LinkedIn, satu ketika timnya menemui kendala untuk menyelesaikan suatu persoalan. Diskusi berjam-jam di ruang rapat tidak memberi pemecahan.
"Kami putuskan rehat sejenak dengan berjalan kaki santai di luar kantor, dan ajaibnya kami justru menemukan solusi dalam perjalanan singkat itu," ungkap Perisic seperti dilansir Huffington Post, baru-baru ini.
Lets walk and talk kini telah menjadi kultur penyedia media jejaring sosial yang menghubungkan para profesional sedunia tersebut.
Maka, jika suatu saat bertandang ke kantor pusat LinkedIn di California, AS, Anda akan mendapati banyak pegawai berdiskusi sembari berjalan kaki di perbukitan sekitarnya.
CEO Western Union Hikmet Ersek juga sering membiasakan rapat sambil berjalan kaki dengan timnya. Menurut Ersek, anak buahnya lebih rileks dan terbuka jika berdiskusi sembari berjalan kaki. "Mereka menjadi lebih lugas mengungkap-kan apa yang mereka inginkan," ujarnya.
Para profesional lain yang gemar melakukan lets walk and talk antara lain CEO Facebook Mark Zuckerberg, juga mendiang Steve Jobs, dan Jack Dorsey, co-founder Twitter. Bahkan, Presiden AS Barack Obama pun acap melakukan kebiasaan tersebut.
Adapun Stanford University pernah mempelajari soal pengaruh jalan kaki dan berpikir kreatif.
Hasilnya, mereka yang berpikir sambil berjalan kaki mampu menghasilkan lebih banyak ide unik ketimbang sambil duduk.
Penelitian itu menemukan tingkat kreativitas seseorang naik hingga 60% ketika ia berjalan kaki. Jalan kaki juga mampu memudahkan-kan manusia mengingat kembali memori jangka pendek.
Yang juga menarik, peneliti Stanford menyimpulkan pemandangan yang dilihat saat berjalan kaki tidak memengaruhi kualitas kreativitas. Jadi, meski kita berjalan menyusuri lingkungan dengan pemandangan jelek, atau bahkan hanya sebatas berjalan di treadmill di gym, pikiran kita akan tetap terstimulasi.
"Berjalan kaki mampu membuka sekat-sekat pikiran sehingga menciptakan alur pikiran yang jernih dan kreatif," ungkap Marily Oppezzo, peneliti psikologi eksperimental di Stanford's Graduate School of Education yang terlibat dalam riset tersebut.
Tentu saja itu tidak berarti Anda perlu merenovasi ruang konferensi atau ruang rapat kantor Anda menjadi gym.
Temuan lain dari para periset Stanford ialah berpikir sambil duduk justru lebih efektif untuk menjawab persoalan dengan jawaban tunggal, mutlak, atau ilmu pasti.