TREN berinvestasi dengan reksa dana diperkirakan melambung seiring dengan pertumbuhan kelas menengah. Untuk itu, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) berupaya mendekatkan reksa dana dengan masyarakat. "Dengan perkembangan pesat inovasi teknologi yang mendukung perangkat gadget dalam menunjang sistem perdagangan, sangat tepat bila menyasar kalangan ge-nerasi muda, sebab, kelompok ini yang sangat familiar dengan berkembangnya inovasi produk gadget," ujar Ketua APRDI Denny R Thaher di Jakarta, Jumat (24/4). Menurutnya, APRDI menargetkan total aset reksa dana senilai Rp1.700 triliun dan 5 juta investor menginvestasikan dananya di reksa dana pada di 2017.
Saat ini tercatat nilai aset reksa dana baru mencapai Rp450 triliun dengan total 250 ribu investor. "Tantangannya memang sosialisasi, karena saat ini baru 2.500 investor, untuk sampai 5 juta banyak yang harus dikerjakan," katanya. Meski begitu, Denny optimistis target itu dapat tercapai mengingat tingginya pertumbuhan investor reksa dana. Ia mencontohkan pameran reksa dana yang dilangsungkan 19-30 Januari 2015. Denny mengklaim terdapat sekitar 2.536 pengunjung yang datang ke 30 booth peserta. Dari jumlah pengunjung itu, terjaring 472 investor reksa dana dengan nilai investasi mencapai Rp913 juta. Penjualan reksa dana pun sudah dapat melalui perusahaan di bidang pos dan giro, perusahaan pegadaian, perusahaan perasuransian, perusahaan pembiayaan, dana pensiun, dan perusahaan penjaminan. Selain itu, menurut Denny, penurunan batas minimum setoran dari Rp250 ribu menjadi Rp100 ribu memperluas jangkauan nasabah reksa dana di kalangan kelas menengah. Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sardjito menambahkan, pasar reksa dana memiliki potensi yang besar untuk dieksplorasi. Pasalnya, populasi investor masih sedikit jika dibandingkan dengan total populasi Indonesia. "Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar, jumlah nasabah reksa dana di Indonesia masih sangat terbatas. Sampai akhir tahun 2014, jumlah nasabah reksa dana baru sekitar 250 ribu nasabah," katanya dalam siaran pers.
Sistem Funnet Di sisi lain, OJK tengah mematangkan sistem pencatatan transaksi reksa dana terintegrasi bernama Funnet. Targetnya, Funnet dapat diluncurkan pada pertengahan tahun depan. Selama ini menurut Direktur Direktorat Pengelolaan Investasi OJK Fachri Hilmi, saat ini penjualan maupun pembelian reksa dana itu melalui sistem sendiri-sendiri. Sebab baik para agen, manajer investasi (MI), dan bank kustodian mempunyai sistem sendiri-sendiri. Hal itu juga yang membuat pelaporan data ke OJK lambat. "Jadi kalau ditanya NAB (nilai aktiva bersih) kemarin baru keluar hari ini jam 10.00, NAB hari ini (Jumat) mungkin baru keluar Senin jam 10.00, sedangkan kalau kita lihat di bursa, jam 4.00 langsung kelihatan berapa indeksnya," kata Fachri di Jakarta, Jumat (24/4). Funnet, menurut Hilmi, merupakan sistem terintegrasi yang mirip dengan sistem di Bursa Efek. Saat ini terdapat 80 MI dan 17 bank kustodian yang memiliki sistem masing-masing dalam mencatat transaksi reksa dana. Akibatnya, data itu membutuhkan waktu lebih lama untuk dirangkum dan dipublikasikan.