PARA shopaholic alias penggila belanja mungkin kerap penasaran, negara mana yang menawarkan harga termurah dari barang-barang favorit mereka.
Di Indonesia, sebagian shopaholic memilih Hong Kong, Tiongkok, dan Singapura sebagai tempat belanja favorit. Tepatkah?
Survei tahunan Deutsche Bank mungkin bisa menjawab pertanyaan itu.
Bank asal Jerman tersebut mencoba mengomparasi daya beli di sejumlah negara.
Riset berjudul Mapping Prices Survey menyerupai indeks harga Big Mac keluaran majalah The Economist.
Bedanya, harga yang diperbandingkan dalam survei Deutsche Bank bukanlah hamburger, melainkan sejumlah barang dan jasa seperti ponsel Iphone, celana jins Levi's, tarif dasar taksi, biaya kuliah, hingga premi asuransi.
Dari survei tersebut, terlihat kini belanja di Eropa dan Jepang relatif lebih murah ketimbang tahun lalu.
Adapun rekor negara dengan harga produk termurah di dunia masih dipegang 'Negeri Taj Mahal', India.
Australia punya potensi pariwisata yang tersohor.
Nyatanya untuk berbelanja di sana, pelancong harus merogoh kocek lebih dalam.
Hal itu berbanding terbalik dengan negara adidaya Amerika Serikat yang menjadi negara dengan harga barang termurah di antara negara maju lainnya.
Deutsche Bank menemukan fakta kendati kurs dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang dunia, Iphone 6 di negara AS dibanderol 'hanya' US$650 (sekitar 8,3 juta).
Bak langit dengan bumi, harga produk serupa di Brasil mencapai US$1.254.
Sementara itu, pecinta celana jins ternama Levi's mungkin serasa di surga saat mengetahui harga sepasang jins Levi's di AS cuma US$54 (sekitar Rp690 ribu).
Sebaliknya, harga Levi's di Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok mencapai US$130.
Tampaknya anggapan bahwa belanja di 'Negeri Paman Sam' itu mahal kini bisa dibuang jauh-jauh.
Nah, mari menyinggung negara mana yang memiliki biaya termurah untuk menghabiskan akhir pekan.
Voila!
India menjadi pemenang dengan biaya US$3,8.
Mereka yang tengah kasmaran di 'Negeri Ganga', dan Meksiko pun terbilang 'beruntung'.
Untuk sekali momen memadu kasih, dalam hal ini periset memasukkan variabel ongkos taksi, makan di McDonald's, dua tiket film, dan sajian bir dingin, biaya yang diperlukan tidak sampai US$40 (sekitar Rp500 ribu).
Walakin, jika tengah di Zurich, Swiss, pikir-pikir dulu untuk menonton di bioskop, karena tiketnya dihargai US$19,7.
Terlepas dari hasil temuan, peneliti Deutche Bank mengingatkan survei itu menganut teori paritas daya beli jangka panjang dan kurs mata uang yang menyesuaikan harga produk yang dipasarkan bersamaan di berbagai negara.
Pada akhirnya, persepsi soal mahal atau murahnya suatu produk bergantung pada tiap individu.