Empat Kilang Baru dalam 10 Tahun

Ire/Ant/E-2
19/4/2015 00:00
Empat Kilang Baru dalam 10 Tahun
IGN Wiratmaja Dirjen Migas Kementerian ESDM(Antara)

PARA pemangku kepentingan sektor migas menyepakati pembangunan 4 kilang baru dan revitalisasi 4 kilang lama dalam tempo 10 tahun. Hal itu menjadi salah satu kesepakatan dalam Oil and Gas Leaders Meeting yang berakhir di Bali kemarin. PT Pertamina akan ditugasi untuk memimpin proyek akbar tersebut karena dianggap sebagai opsi tercepat.

"Nanti pemerintah menugasi Pertamina dan selanjutnya Pertamina cari partner sendiri. Kedua, kita harapkan ada swasta yang membangun kilang yang lebih kecil. Setelah itu, ada skema KPS (kemitraan pemerintah-swasta)," papar Dirjen Migas IGN Wiratmaja seperti dilansir di situs Ditjen Migas Kementerian ESDM, kemarin.

Dalam pertemuan yang dihadiri Menteri ESDM, Ditjen Migas, Kepala Unit Pengendali Kinerja Widyawan, SKK Migas, BPH Migas, Pertamina, dan PGN serta PLN itu, disepakati pula dua hal lain.

Pertama, dukungan atas program kelistrikan 35 ribu Mw dengan 13 ribu Mw di antaranya berbahan bakar gas, dan prioritas pembangunan infrastruktur di Indonesia Timur.

Kesepakatan lain ialah tersambungnya pipa infrastruktur gas Sumatra-Jawa dalam 5 tahun.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Sofyan Djalil kembali mengingatkan urgensi kebutuhan kilang minyak modern guna meredam impor dan menjaga kinerja neraca dagang.

Apalagi, ujarnya, Pertamina berniat memproduksi bensin baru, yaitu pertalite, yang belum tentu bisa dipenuhi dari dalam negeri. Sebab, mayoritas kilang yang ada hanya bisa menghasilkan bensin berkadar RON rendah, di bawah 90.

Dengan kemungkinan pengadaan pertalite yang terbatas karena ketiadaan kilang baru, Sofyan khawatir impor akan naik.

"Sekarang tantangan berat bagi Pertamina ialah pembangunan dan perbaikan kilang karena sudah tua, ada yang sudah 40 tahun," ucapnya di Jakarta, Jumat (17/4).

Namun, ia mengakui tidak mudah membangun kilang baru yang investasinya bisa sampai US$10 miliar, bahkan dengan mengajak swasta.

"Biaya investasinya tinggi, sedangkan margin (keuntungan) rendah," jelasnya.

Dalam jangka panjang, ia berharap pemanfaatan jenis energi lain seperti gas serta energi baru terbarukan lebih maksimal.

Dalam kesempatan terpisah, VP Communication Pertamina Wianda Pusponegoro memastikan pencampuran (blending) pertalite dilakukan di kilang domestik.

Ia pun menegaskan pertalite akan menjelma alternatif produk yang lebih ramah lingkungan.

"Kami ada kilang Balongan yang telah rutin memproduksi RON 92," lanjut Wianda.

Perihal peremajaan kilang, ia menyebut masih akan sesuai dengan Refinery Development Master-Plan.

"Sejak kuartal II ini kami persiapkan administrasi kelengkapan perencanaan proyek, selanjutnya bergulir bertahap di beberapa kilang."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya