PEMERINTAH menyambut positif rencana PT Pertamina (persero) mengeluarkan BBM berangka oktan (research octanenumber/RON) 90 pada akhir April. BBM dengan merek dagang pertalite tersebut akan menggantikan BBM RON 88 atau premium.
Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, cepat atau lambat Indonesia memang harus beralih kepada BBM ramah lingkungan. "Suatu saat kita harus memproduksi BBM RON 92 dan RON 95 seperti standar Eropa karena baik bagi lingkungan. Pertamina disarankan menentukan harga yang tepat agar dapat dijangkau masyarakat."
Menteri ESDM Sudirman Said menambahkan, produk baru Pertamina, BBM berjenis pertalite, dibuat sebagai produk transisi penghapusan RON 88 dari pasar.
"RON 88 tidak ramah lingkungan sehingga Tim Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan untuk dihapus. Namun, Pertamina belum resmi mengajukan usul produk baru berkadar oktan RON 90 itu. Mereka baru berkomunikasi secara informal," kata Sudirman.
Vice President of Corporate Communication of Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan peluncuran BBM RON 90 tersebut tidak serta-merta menghapuskan premium. "Jadi, premium masih ada. Performanya lebih baik daripada RON 88 dan harganya lebih ekonomis daripada RON 92."
Pada tahap awal, lanjut Wianda, penjualan pertalite tersebut hanya diberlakukan di wilayah DKI Jakarta. Pertamina juga sudah melakukan pemetaan SPBU di awal peluncuran pertalite. "Di Jakarta Pusat saja ada 29 titik. Penjualannya terbatas pada SPBU milik perseroan. Tetapi ke depan SPBU Pertamina yang tergabung dalam Hiswana Migas juga dapat menjual produk tersebut."
Peluncuran pertalite sekaligus bertujuan menekan kerugian perseroan dari penjualan premium. Menurut Pertamina, kerugian perseroan dari penjualan premium mencapai Rp48 miliar per hari. Kerugian dihitung dari selisih harga keekonomian senilai Rp600 per liter dikalikan jumlah premium yang didistribusikan per hari, yakni 80 juta liter (MediaIndonesia, 17/4). (Fat/Jes/*/X-4)