Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NERACA perdagangan Indonesia selama Maret 2015 kembali mencatat surplus. Kali ini besarannya mencapai US$1,13 miliar. Pencapaian itu lebih tinggi daripada surplus perdagangan pada Februari sebesar US$660 juta dan Januari US$640 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan keberhasilan pemerintah meraih surplus perdagangan Maret karena kinerja ekspor pada bulan tersebut tumbuh hingga US$13,71 miliar.
Sementara itu, pada saat yang bersamaan pemerintah menekan impor menjadi US$12,58 miliar.
Sektor yang menyumbang surplus terhadap neraca perdagangan selama Maret 2015 ialah ekspor nonmigas US$1,41 miliar.
Ekspor migas mengalami defisit US$0,28 miliar.
"Dengan demikian, pada kuartal pertama tahun ini perdagangan Indonesia mencatatkan surplus tiga bulan berturut-turut sebesar US$2,43 miliar, atau meningkat jika dibandingkan dengan periode sama 2014 sebesar US$1,06 miliar," kata Suryamin, kemarin.
Tiga negara tujuan ekspor yang paling besar menyerap produk ekspor Indonesia sepanjang kuartal pertama 2015 ialah AS sebesar US$3.779,6 juta, Jepang (US$3.563,8 juta), dan Tiongkok (US$132,5 juta).
Hanya, jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu ekspor Indonesia ke 'Negeri Paman Sam' mengalami penurunan 11,67% lantaran menyusutnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Pemerintah harus menjaga capaian surplus dengan mewaspadai potensi defisit pada April. Saat itu anggaran belanja infrastruktur cair sehingga mendorong impor barang modal. Saya pikir impor akan naik," ujar Suryamin.
Setop impor
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati menyatakan surplus perdagangan kuartal pertama 2015 itu menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi.
"Saya berharap pemerintah mempertahankan hasil itu (surplus). Depresiasi rupiah bisa menjadi momentum mengerek ekspor. Surplus dapat menutup defisit neraca jasa dan keuangan. Kan pemerintah harus bayar dividen obligasi negara," ungkap Enny.
Optimisme terhadap surplus perdagangan di bulan-bulan mendatang disampaikan manajemen Bank Australia and New Zealand (ANZ).
Dalam rilis yang diterima Media Indonesia kemarin, ANZ memprediksikan kelapa sawit, batu bara, dan karet akan menyumbang surplus perdagangan di bulan-bulan selanjutnya.
Ke depan, Enny berharap Kementerian Perdagangan tidak membuka keran impor komoditas yang sudah dihasilkan produsen di dalam negeri seperti beras dan gula pasir.
"Kalau ada permintaan gandum yang diperkirakan mencapai US$518,1 juta, jangan impor dari AS. Impor saja dari Turki dan India karena harganya lebih kompetitif sehingga memajukan industri tepung di dalam negeri," jelas Enny.
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pun mengapresiasi langkah Kementerian Perdagangan yang menutup pintu impor gula untuk menjaga tata niaga.
"Kini, tinggal memperbaiki perkebunan tebu dan merevitalisasi pabrik gula. Kementerian Perdagangan juga telah mencabut Permendag No 111/2009 tentang Distribusi Gula Rafinasi, biang karut-marutnya tata niaga gula," kata Ketua Umum APTRI Arum Sabil.
Dengan dicabutnya Permendag tersebut, pemerintah menunjukkan keberpihakannya pada tata niaga yang berkeadilan.
"Menteri Perdagangan akan bersinergi dengan Menteri BUMN dan Menteri Pertanian untuk menjaga swasembada gula," tandas Sabil.
(Tes/X-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved