PEMBANGUNAN jaringan gas kota untuk mengurangi konsumsi elpiji di masyarakat akan dikebut tahun depan. Tahun ini, pemerintah masih akan membuat perencanaan jaringan gas kota yang ditugaskan kepada PT Pertamina (Pertagas) Gas dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas IGN Wiratmaja Puja menuturkan pihaknya tengah membuat road map yang lebih teknis. "Jadi, tahun ini masih fase perancangan. Mulai masif eksekusi tahun depan," ucap Wiratmaja kepada Media Indonesia, Senin (13/4). Penugasan pembangunan jaringan kota sudah diberikan secara resmi kepada kedua BUMN itu melalui surat penugasan resmi.
Kepada PT Pertamina Gas, pemerintah menugaskan pembangunan di 10 kabupaten dan kota dengan jaringan sebanyak 46.103 sambungan rumah tangga.
Sementara itu, PGN ditugasi untuk membangun jaringan gas di 11 rumah susun dan 10 kabupaten dan kota sebanyak 40.437 sambungan.
Penugasan pembangunan jaringan gas itu mayoritas akan dibangun di Pulau Jawa dan Sumatra. Alasannya belum adanya infrastruktur pipa gas di wilayah timur Indonesia, "Karena di daerah timur belum ada infrastruktur pipa gas, hanya ada di Bontang. Ke depannya, kita bangun infrastruktur di timur," papar Wiratmaja.
Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas menjangkau 471.400 unit rumah tangga di kota-kota Indonesia selama periode 2015 hingga 2019. Untuk kebutuhan itu alokasi gas sebanyak 14,2 mmscfd.
Tahun ini, pemerintah akan menggelontorkan Rp140 miliar untuk 8.000 sambungan rumah tangga di Lhoksukon, Aceh, dan Pekanbaru, Riau.
Kedua proyek akan diberikan kepada PT Pertamina. Sisanya masih merupakan rencana yang disusun pemerintah dan bakal diberikan kepada Pertagas dan PGN.
Program gas kota merupakan upaya pemerintah memberikan alternatif bahan bakar rumah tangga di samping elpiji kini makin mahal. Harga gas bumi lebih murah hingga separuh harga elpiji. (Jes/E-1)