Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTORAT Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan menyatakan penerimaan pajak Semester I 2019 tumbuh melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dirjen Pajak Robert Pakpahan menjelaskan penyebabnya karena ada sektor yang pertumbuhannya memang mengalami perlambatan pada periode tersebut.
"Data Semester 1 (2019) penerimaan pajak tumbuh melambat dibanding tahun lalu," kata Robert dalam Media Gathering 2019 di Bali, Jumat (2/8).
Sebagai informasi, penerimaan pajak Semester I 2019 sebesar Rp603,34 triliun atau tumbuh terbatas di angka 3,74%. Angka tersebut lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu mampu tumbuh sebesar 13,99%.
Sektor manufaktur, terang dia, tumbuh negatif 2,6% atau melambat dibandingkan dengan kinerja tahun lalu yang mencapai 13%.
"Pertumbuhan negatif sektor manufaktur lebih banyak disebabkan oleh tingginya restitusi, tumbuh 30,8% dan moderasi aktivitas impor," jelasnya.
Baca juga: Ditjen Pajak Sebut 31 Wajib Pajak Dapat Fasilitas Tax Holiday
Sektor pertambangan pun mengalami kontraksi. Pertumbuhan sektor pertambangan sebesar negatif 14%. Itu jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2018 yang mencapai 80,3%. Penyebab utamanya, lanjut dia, adalah penurunan harga komoditas tambang di pasar global.
Selain itu, sambung Robert, kinerja sektor pertambangan juga dipengaruhi oleh pertumbuhan restitusi yang mencapai 11%. Itu karena adanya pengembalian pajak akibat putusan pengadilan yang memenangkan Wajib Pajak.
Pertumbuhan sektor perdagangan pun, disebut Robert, tidak seperti tahun lalu. Perdagangan hanya tumbuh 2,5%. Sementara tahun lalu, sektor perdagangan bisa tumbuh sebesar 27,6%.
Dari jenis pajaknya, pertumbuhan PPh 22 impor pun turun sangat tajam menjadi sebesar 2,3%. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 28%. Untuk PPN impor pun tumbuh negatif 2,1%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang sebesar 24,3%.
"Manufaktur tidak tumbuh seperti tahun lalu, impor turun sangat drastis, pertambangan kontraksi, perdagangan juga tidak seperti tahun lalu. Itu yang menyebabkan penerimaan tahun ini masih tumbuh sekitar 3,5%. Mudah-mudahan di Semester II (2019) membaik," tuturnya.
Kendati demikian, kinerja baik di sektor jasa keuangan maupun transportasi dan pergudangan masih tumbuh positif. Pertumbuhan sektor jasa keuangan mencapai 8,8% atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,8%.
Pertumbuhan positif tersebut disebabkan oleh pertumbuhan profitabilitas perusahaan yang tercermin dari pertumbuhan PPh Badan sebesar 7,9% dan peningkatan pembayaran PPh Pasal 21 sebesar 19,5%. Juga, didukung oleh peningkatan PPh Final atas Bunga Deposito yang tumbuh 20,1%.
Sementara itu, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 23,1% atau melampaui kinerja pada periode yang sama tahun 2018 sebesar 10,7%. Pertumbuhan tersebut terjadi pada beberapa sektor utama seperti operator jalan tol, operator pelabuhan dan beberapa maskapai penerbangan.(OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved