Konversi ke Gas belum Beranjak dari Mimpi

MI/Tesa Oktiana Surbakti
08/4/2015 00:00
Konversi ke Gas belum Beranjak dari Mimpi
(Sumber: ESDM/Pertamina/Foto: Antara/Grafis: Ebet)
IMPIAN mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) untuk kendaraan bermotor masih jauh dari menjadi kenyataan.

Pemerintah berulang kali menyatakan komitmen pelaksanaan program konversi, tetapi infrastruktur gas tidak kunjung tumbuh signifikan.

Hal itu menyebabkan pelaku usaha di sektor otomotif gamang dalam memproduksi kendaraan berbahan bakar gas. Ketersediaan infrastruktur pendukung konsumsi BBG masih menjadi tanda tanya besar.

Kegamangan tersebut dikemukakan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi saat ditemui di sela-sela peresmian pabrik baru Isuzu di kawasan industri Karawang, Jawa Barat, kemarin.

Pelaku usaha, menurut dia, mengakui peralihan konsumsi dari BBM ke BBG tidak mudah. Sebagai contoh untuk mendukung pemakaian BBG, produsen harus memodifikasi mesin kendaraan dengan dilengkapi alat konversi bahan bakar berikut tabung gas sebagai wadah penyimpanan BBG. Selain itu, standardisasi keselamatan yang menjadi acuan praktis ikut berubah.

"Ini memang masih menjadi pembicaraan. Beberapa bulan lalu, Gaikindo ikut pertemuan besar dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan Kementerian Perhubungan. Dari pembahasan itu kami sama-sama melihat prosesnya tidaklah mudah," ujar Sudirman.

Namun, permasalahan yang tidak kalah besarnya ialah kesiapan stasiun pengisian BBG atau SPBG. Pasalnya, sambung Sudirman, jumlah SPBG di Indonesia minim. Sebagian besar terkonsentrasi di Jawa.

"Jangan sampai ketika sudah digunakan masyarakat, semua bingung mau mengisi bahan bakarnya di mana. Kita kan berbicara ranah nasional, bukan Jawa saja," cetus Sudirman.

Pihaknya sendiri telah menyatakan kesiapan untuk memproduksi kendaraan berbahan bakar gas. Hanya, Sudirman meminta pemerintah memberikan pemberitahuan dini sekitar satu tahun sebelum program tersebut direa-lisasikan.

"Gaikindo waktu itu ditanya, perlu waktu berapa lama? Saya bilang sekitar setahun. Kami minta kasih tahunya jangan mendadak. Misal akhir 2016 infrastrukturnya siap, pemerintah harus sosialisasikan ke pelaku usaha di awal tahun," ungkap Sudirman.

Pasalnya, sebelum bisa menghasilkan kendaraan berbahan bakar gas, mau tidak mau industri otomotif harus mengubah standardisasi produksi yang selama ini berlaku.

Saat ditemui di kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan pemerintah melalui kementerian teknis terkait masih membahas persiapan infrastruktur pendukung program penggunaan BBG. "Selama ini yang jadi kendala kan lokasi stasiun bahan bakar gas yang masih minim.

Ini yang sedang kita dorong yaitu mempersiapkan infrastruktur. Untuk sejauh mana persiapannya, langsung tanya Kementerian ESDM, ya. Mereka yang bertanggung jawab," papar Saleh.

Sasar angkutan umum
Kelak, tahap awal peralihan penggunaan BBM ke BBG amat mungkin menyasar produksi angkutan umum. Namun, saat ditanyai tentang ihwal alur jalan menuju realisasi program konversi, Saleh tidak bisa menjelaskan lebih detil.

Saleh hanya memastikan upaya itu kerap menjadi agenda penting di kementerian teknis terkait. "Pasti selalu dibahas, cuma kan butuh waktu untuk realisasinya. Tidak cuma dari satu aspek." (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya