Milenial Gemari Investasi Cryptocurrency

(S-4)
18/3/2019 06:40
 Milenial Gemari Investasi Cryptocurrency
(AFP)

 Risiko berinvestasi pada mata uang digital tidak main-main. Dengan pergerakan harga yang fluktuatif seketika, investor bisa saja rugi.

MESKI masih tergolong baru, cryptocurrency atau mata uang digital banyak diminati investor. Yang menarik lagi, kalangan milenial menjadi yang terbesar dalam berinvestasi pada mata uang digital.

Fakta itu terungkap dari survei Bitocto Indonesia selama periode Januari-Februari 2019 guna melihat animo masyarakat Indonesia berinvestasi cryptocurrency. Sebanyak 29 partisipan dari berbagai kota di Indonesia ikut ambil bagian dalam survei tersebut.

Sekitar 34,5% partisipan berusia 31-50 tahun. Sisanya sebesar 65,5% berasal dari kalangan milenial dengan kisaran usia 17-30 tahun.

Data hampir serupa juga ditunjukkan para member di Bitocto yang saat ini lebih dari 18 ribu orang. Sekitar 70% di antara mereka dikuasai generasi milenial. Uniknya, mereka justru menetap di kota-kota kecil di Indonesia.

"Kebanyakan yang berinvestasi di sektor ini ialah anak-anak muda. Dari hasil survei, 96,6% partisipannya juga didominasi kaum laki-laki," klaim Founder dan CEO Bitocto Indonesia, Milken Jonathan, melalui keterangan tertulis yang diterima, di Jakarta, pekan lalu.

Ditilik dari latar belakang para partisipan, sebesar 51,7% merupakan para pebisnis. Lainnya, sekitar 24,1% merupakan pegawai swasta, 10,3% freelance atau pekerja lepas, dan 13,8% tidak bekerja.

Metode investasi dengan cara trading masih cukup diminati di Indonesia sebanyak 55%. Hanya 4% yang memilih metode mining. Sisanya sebesar 41% menggunakan kedua metode sekaligus.

Dari hasil survei, mereka mengklaim bahwa partisipan meyakini bahwa investasi mata uang kripto merupakan aman serta dapat dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Sebanyak 96,6% di antara mereka akan merekomendasikan investasi ini kepada para koleganya.

"Alasan utama partisipan berinvestasi, yaitu menambah pendapatan dan ingin belajar memahami kompleksitas teknologi blockchain dan manfaatnya," urai Milken.

Berani ambil risiko

Perusahaan sejenis, Tokocrypto, juga memiliki data serupa. Dari 10 ribu penggunanya yang tercatat per Desember 2018, generasi milenial mendominasi hingga 55%-60%.

"Memang lebih banyak mereka dengan kisaran usia 17-30 tahun. Mereka adalah generasi yang berani ambil risiko," ucap Head of Marketing Tokocrypto, Aditya Raflein, saat ditemui Media Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Risiko berinvestasi pada mata uang digital tidak main-main. Dengan pergerakan harga yang fluktuatif seketika, investor bisa saja buntung alias rugi. Bagi yang memahami pergerakan harga, layaknya pergerakan saham, seorang pemain mampu meraup untung sebesar 1%-2% per hari dengan jual-beli aset kripto.

Terkait dengan regulasi, Raflein menerangkan bahwa Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) merilis Peraturan Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto (crypto asset) di Bursa Berjangka. Regulasi resmi ini diharapkan menambah kepercayaan para pemain.

Di samping itu, Bappebti juga mengatur pembentukan pasar fisik aset kripto yang dilaksanakan menggunakan sarana elektronik. Hal tersebut difasilitasi bursa berjangka dan pedagang fisik aset kripto. Pasar ini hadir sebagai sarana pembentukan harga yang transparan, penyediaan sarana serah terima fisik, serta dipergunakan sebagai referensi harga di bursa berjangka. (S-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya