PERUM Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) mencetak laba bersih konsolidasi Rp334 miliar pada 2014. Angka itu meningkat 21,21% jika dibandingkan dengan 2013 yang mencapai Rp275,56 miliar.
Pertumbuhan laba bersih konsolidasi antara lain dikontribusikan laba usaha Rp227 miliar dan pendapatan nonoperasi sebesar Rp216,13 miliar.
"Ini pertumbuhan laba yang menggembirakan dan merupakan bukti dari komitmen karyawan yang telah bekerja baik sepanjang 2014," ujar Direktur Utama Peruri Prasetio di Kantor Peruri Karawang, Jawa Barat, kemarin.
Dalam hal pendapatan usaha, lanjut Prasetio, pada 2014 Peruri memperoleh laba sebesar Rp2,31 triliun atau turun 1,77% daripada 2013 sebesar Rp2,35 triliun.
Prasetio mengungkapkan pencapaian tersebut tergolong kinerja yang bagus dari sumber daya Peruri mengingat pada 2012 Peruri mengalami masa sulit akibat ketidakpastian kondisi ekonomi kala itu.
"Pendapatan usaha Peruri pada 2012 tercatat hanya sebesar Rp1,39 triliun atau turun 28,94% dari 2011 yang mencapai Rp1,96 triliun. Sementara itu, laba bersih konsolidasi pada 2012 tercatat Rp23,5 miliar atau turun 86% ketimbang 2011 sebesar Rp165,82 miliar," tuturnya.
Ia mengungkapkan, berkat solidaritas manajemen dan kerja sama yang harmonis dengan karyawan, kinerja 2013 tumbuh membanggakan jika dibandingkan dengan 2012. Prasetio mengungkapkan pendapatan usaha 2013 tercatat Rp2,35 triliun atau naik 69,24% jika dibandingkan dengan 2012 sebesar Rp1,39 triliun.
Laba bersih pada 2013 bahkan naik 1.075,49% jika dibandingkan dengan 2012 yang hanya mencapai Rp 23,5 miliar.
"Kilas balik itu sengaja saya sampaikan untuk menjelaskan bahwa bisnis Peruri ke depan memasuki new equilibrium, yaitu pertumbuhan rata-rata per tahun minimal 15%," ujar Prasetio.
Proyeksi 2015 Prasetio memproyeksikan pendapatan Peruri pada tahun ini mencapai Rp3 triliun atau naik 27,09% daripada 2014 sebesar Rp2,31 triliun. Peningkatan proyeksi pendapatan tersebut didorong permintaan Bank Indonesia (BI) kepada Peruri untuk mencetak 9 miliar bilyet uang kertas pada 2015.
Pada 2014 Peruri hanya mencetak 7,6 bilyet uang kertas. Satu bilyet terdiri dari 45 lembar uang kertas dengan variasi nominal yang berbeda untuk setiap bilyet. Sementara laba bersih pada 2015, Oleh karena itu, Peruri menargetkan Rp 275 miliar atau lebih kecil dari pada tahun sebelumnya.
"Pada 2014 Peruri beruntung karena BI selaku penjual bahan utama uang kertas memberikan potongan harga yang besar kepada perusahaan. Laba bersih bisa saja melebihi target bila kondisi serupa terjadi di tahun ini," ulasnya.
Direktur Keuangan Peruri, Antonius membenarkan bahwa Peruri menurunkan proyeksi laba bersihnya. Antonius mengungkapkan dalam RKP tahun ini proyeksi laba konsolidasi turun menjadi Rp275 miliar, karena di luar aset dan pendapatan mata uang asing (foreign exchange/ forex).
"Kalau tahun kemarin RKP (rencana kerja pemerintah)-nya Rp281 miliar karena ada kontribusi penjualan aset jadi Rp334 miliar," ungkap Antonius. (E-3)