Konsumen Negara Berkembang Lebih Beradab

Bow/E-1
07/4/2015 00:00
Konsumen Negara Berkembang Lebih Beradab
(MI/CAKSONO)
SAAT berbelanja, ternyata konsumen di negara berkembang cenderung lebih memperhatikan faktor etika ketimbang konsumen di negara maju. Hal itu setidaknya berdasarkan pengakuan para responden dalam survei yang dilaksanakan Mastercard.

Konsumen Indonesia, diikuti Malaysia dan Tiongkok, lebih mempertimbangkan faktor fair trade, ramah lingkungan, atau apakah produsen produk tersebut mendonasikan sebagian pendapatan untuk amal. Sementara itu, konsumen Selandia Baru dan Australia paling rendah dalam perhatian terhadap faktor-faktor tersebut.

Tiongkok paling cenderung mempertimbangkan apakah penjual menjalankan bisnis dengan etis ketika memilih tempat untuk berbelanja, sedangkan Jepang mencatatkan skor paling rendah (lihat grafik).

Dua permasalahan etika terpenting bagi para pembeli ialah ketika gerai bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ditambah lagi, jika produk menguntungkan penjual ataupun pembeli.

Hasil itu diperoleh melalui wawancara yang dilaksanakan dari Oktober hingga Desember 2014, terhadap 500 orang berusia 18-64 tahun di 14 negara. Lebih dari setengah (56,6%) pembeli di Asia Pasifik cenderung membeli sebuah produk dengan memperhatikan faktor etika.

Di negara-negara yang disurvei, sebanyak 64% produk dibeli berdasarkan prinsip fair trade, 58,8% membeli produk yang ramah lingkungan, dan 47% membeli produk karena mendonasi sebagian dari penjualan mereka untuk tujuan yang baik.

Group Head Communication Mastercard Asia Pacific Georgette Tan mengatakan orang-orang di negara berkembang semakin peduli terhadap dampak dari pertumbuhan yang cepat di lingkungan dan masyarakat. Tidak mengherankan jika mereka cenderung berpikir mengenai rantai pasokan dan faktor etika dari pedagang ketika memutuskan apa yang dibeli dan lokasi pembelian.

"Penemuan ini memberikan dukungan kepada inisiatif Mastercard's Purchase with Purpose, yang melibatkan para pemegang kartu di dalam usaha perusahaan untuk memberikan kembali kepada komunitas," tutur Tan, dalam siaran pers yang dipublikasikan kemarin.

Sebagian dari hasil penjualan barang diharapkan disalurkan untuk mendukung para kaum wanita dan edukasi, dengan memberikan kesempatan bagi yang kurang mampu untuk mempelajari suatu keterampilan.

Tanggung jawab sosial juga mencakup memperjuangkan pendidikan lanjut, meningkatkan kesadaran akan isu kesehatan, serta mendukung perlindungan lingkungan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya