IPC Terus Raih Kinerja Positif

(Pra/S1-25)
06/3/2019 08:15
IPC Terus Raih Kinerja Positif
(MI/PIUS ERLANGGA)

RATUSAN topi dari berbagai negara menggantung menutupi sebagian dinding ruang kerja Saptono Rahayu Irianto. Ya, pria ber¬usia 61 tahun yang menjabat sebagai Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC itu memang gemar mengoleksi aksesori kepala, mulai yang sengaja ia beli, kado, hingga hadiah penghormatan, semua tersusun rapi, bersih, begitu terjaga. “Tapi saat itu belum terpikir untuk mengoleksi,” ucap Saptono mengawali perbincangan dengan Media Indonesia di kantornya, Jakarta, Selasa (26/2).

Ketika berbicara IPC, Saptono menjelaskan IPC saat ini memasuki tahap sustainable superior performance, yaitu memiliki target yang berfokus pada tiga hal, yakni strategi pertumbuhan, konektivitas nasional, dan ekspansi global. 

Hal tersebut sesuai dengan tema Direktorat Komersial IPC 2019, yaitu Excellent Performance of RoA (return of asset), Organic & Unorganic Growth.

Kaitannya dengan peningkatan RoA, menurut dia, ialah dengan melaksanakan optimalisasi aset di seluruh cabang pelabuhan maupun anak perusahaan IPC. “Terkhusus pada cabang-cabang, Direktorat Komersial melakukan inventarisasi seluruh aset IPC dan akan fokus untuk tindak lanjut terhadap aset yang berpotensi memberikan revenue (earning asset).” 

Earning asset tersebut, jelas Saptono, terbagi menjadi kategori optimal dan tidak optimal/idle. Pada 2018, telah disusun studi Highest & Best Use (HBU) untuk pemanfaatan lahan idle di beberapa cabang, yang akan ditindaklanjuti pada 2019 dengan melakukan pemasaran pada lahan-lahan yang belum optimal tersebut. 

“Selain itu, juga terdapat program yang telah direncanakan untuk pemanfaatan lahan seperti pengembangan KEK di Bengkulu dan pengoperasian terminal ex JICT 2,” imbuhnya.

Ia juga mengemukakan, IPC juga melakukan optimalisasi kepada nilai-nilai kerja sama dengan mitra dalam pemanfaatan aset IPC untuk meningkatkan pendapatan.

Ia juga mengemukakan, IPC memiliki inisiatif pe¬numbuhan pendapatan melalui peningkatan troughput transshipment sejalan dengan rencana Pelabuhan Tanjung Priok dalam menjadi hub port.

Di fase sustainable superior performance, jelasnya, salah satu fokus IPC ialah strategi pertumbuhan yang terdiri atas organic & unorganic growth.Pertumbuhan bisnis organic ialah pengembangan dari bisnis-bisnis yang menjadi layanan utama IPC dan merupakan pelayanan rutinitas, yaitu hubungannya dengan pelayanan terminal dan pelayanan kapal.

Sementara itu, untuk pertumbuhan unorganic lebih ke arah pengembangan out of the box dari core bisnis IPC yang akan melibatkan kerja sama dengan perusahaan lain. Ia mencontohkan integrasi IPC dengan KBN dalam pemanfaatan lahan yang saat ini sudah ditandatangani MoU-nya dan sedang ditindaklanjuti melalui anak-anak perusahaan IPC.Dengan rencana pertumbuhan bisnis unorganic diharapkan IPC dapat meningkatkan pendapatan dari sumber pendapatan yang sebelumnya tidak ada.

Saptono pun menjabarkan, tiga hal yang ditonjolkan BUMN kepelabuhanan itu.Pertama ialah fasilitas.Ia mengharuskan fasilitas-fasilitas terpasang di Tanjung Priok maupun pelabuhan yang dikelola IPC, sudah memenuhi standar internasional.Sebagaimana diketahui, IPC telah membangun pelabuhan yang setara dengan pelabuhan maju di dunia yang disebut New Priok Container Terminal.

Yang kedua, korporasi memanfaatkan akses dan konektivitas yang mudah sebagai daya tarik. Pelabuhan, sambungnya, hanya akan hidup jika ada jalur distribusi sebagai penghubung dengan pabrik-pabrik pelaku usaha dan moda transportasi yang efisien. “Dalam hal ini, kita tahu pemerintah telah melakukan banyak hal dalam memuluskan konektivitas.”

Upaya terakhir ialah dengan percepatan dalam pro¬ses bongkar muat. Kapal besar yang memiliki volume muatan besar, mustahil dilakukan secara manual.Semua, lanjutnya, harus sudah memanfaatkan teknologi, otomatisasi, dan operasi digital.

Pada dua container terminal terbaru yang akan beroperasi di Terminal Kalibaru, semua sistem pembongkaran, ungkap Saptono, akan dilakukan secara otomatis.

“Jadi, kita buat database.Semua kontainer yang masuk sudah diset penempatannya. Setelah kargo diangkat dari kapal, itu akan masuk ke chassis dan secara otomatis dikirim ke lokasi yang ditetapkan oleh sistem. Konsep ini akan kita terapkan pada Container Terminal 2 dan 3. Next generation kita,” jelasnya.

Dengan segala kecanggihan yang ditawarkan dan kelengkapan fasilitas berstandar internasional, Tanjung Priok kini telah mampu menjalankan direct call atau pengiriman langsung ke negara tujuan.

Saat ini terdapat lima rute direct call yang dilayani pelabuhan terbesar Indonesia itu, yakni Intra Asia, Amerika Serikat, Australia, Eropa melalui Rotterdam di Belanda, dan Afrika melalui Mesir. “Kita sudah memegang seluruh benua dan ini akan kita tingkatkan ke depannya,” lanjut pria kelahiran Purwokerto itu.

Kinerja positif
Berbagai upaya yang dilakukan itu pun membuahkan hasil yang tidak main-main. Pada 2018 (unaudited), perseroan meraup pendapatan usaha Rp11,44 triliun, naik 4,86% dari tahun sebelumnya. Dari sisi laba bersih, angka yang terealisasi mencapai Rp2,43 triliun, lebih tinggi 9,95% dari 2017.

Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp4,17 triliun, lebih tinggi 3,47% dari 2017. 

Pada aspek operasional, pada 2018 realisasi trafik arus peti kemas tercatat 7,6 juta TEUs, jauh lebih tinggi dari capaian 2017 yang hanya 6,9 juta TEUs, dan 6,1 juta TEUs pada 2016. Kenaikan juga terjadi pada arus non peti kemas, yaitu 61,97 juta ton lebih tinggi dari capaian 2017 sebesar 57,09 juta ton. 

Sementara itu, kunjungan kapal mengalami peningkatan 10,93% dari tahun sebelumnya, yaitu 224,3 juta GT. Kinerja positif juga terlihat pada pelayanan kapal penumpang.Pada 2018, penumpang yang bepergian melalui Pelabuhan Tanjung Priok tercatat sebanyak 714,93 ribu orang, tumbuh 16,68% dari tahun sebelumnya. “Inilah yang didapat ketika kita bisa menem¬patkan sesuatu sesuai pada posisinya, bisa menimbulkan ketertarikan sehingga ada hasil baik yang didapat dari itu,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan upaya yang dilakukan untuk menjaga kepuasan pelanggan. “IPC secara berkala melakukan monitoringterhadap seluruh cabang dalam menindaklanjuti permintaan atau keluhan yang diterima dari pelanggan. Selain itu, IPC juga telah menyiapkan sistem pengelolaan customer berbasis IT yang kami sebut sebagai customer relationship management (CRM) yang di dalamnya terdapat enam modul.”

Enam modul tersebut ialah master customer data, customer survey, customer service, customer visit management, customer profiling,dan pencatatan peluang bisnis. “Melalui sistem tersebut diharapkan IPC dapat menjaga hubungan baik dengan seluruh pelanggan dan secara bersama-sama dengan pelanggan menjadi lebih baik sejalan dengan prinsip kami, yaitu Grow Together.” Selain itu, bentuk lain upaya menjaga kepuasan pelanggan ialah dengan program pembinaan, seperti customer award dan customer gathering.

Terkait dengan target pemasaran pada tahun ini, Saptono mengaku, IPC telah menyusun marketing & sales blue print IPC Group, antara lain menjalin kerja sama sister port untuk memperluas jaringan internasional, pengoptimalan aset melalui pemanfaatan digital marketing, dan peningkatan pelayanan pelanggan berbasis teknologi. Selain itu, melakukan implementasi segmentasi pelanggan secara tepat serta menjalin rencana kerja sama dengan mitra BUMN dan swasta. 

“Semua yang dilakukan tentunya untuk menciptakan value bagi pelanggan dan menerapkan strategi solusi yang lebih proaktif. Semua upaya tersebut dalam rangka mencapai target pencapaian pendapatan 2019 sebesar Rp13,5 triliun dan trafik peti kemas mencapai 8juta TEUs,” ujarnya. (Pra/S1-25)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya