Sektor Hulu Migas Mulai Bergerak  

Satria Sakti Utama
05/3/2019 04:30
Sektor Hulu Migas Mulai Bergerak  
(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

GELIAT di sektor hulu minyak dan gas (migas) mulai bergerak kembali dalam dua tahun terakhir. Lelang wilayah kerja (WK) blok migas pun mulai diminati investor. Hal itu berkebalikan dengan kondisi di 2015 hingga 2016 saat tidak ada lelang blok migas diminati investor.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, pada 2017-2018 ada 14 WK yang diminati investor. Adapun hingga akhir 2019 diperkirakan akan ada 40 WK migas yang bakal digarap investor dengan menggunakan skema gross split (lihat grafik).

“Kita tawarkan blok eksplorasi, tidak ada yang laku, nol, pada 2015 dengan cost recovery, 2016 juga seperti itu. Kita ubah dengan gross split di 2017, laku lima. Tahun 2018 kita tawarkan lagi, dan laku sembilan. Ini perlu disampaikan bahwa faktanya berkembang,” ujar Arcandra dalam Forum Group Discussion Menilik Industri Migas Indonesia di Kantor Media ­Indonesia, Jakarta, Senin (4/2).

Hadir dalam FGD itu Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani, Dirjen Migas ­Kementerian ESDM Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, anggota Komisi VII DPR Kurtubi, dan Direktur Peraturan Perpajakan II Yunirwansyah. 

Dari kalangan pelaku usaha hadir Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu, praktisi migas Eddy Tampi, Government and Public Affairs Manager BP Indonesia Budiman Moerdijat, dan beberapa perwakilan perusahaan migas ­nasional. 

Archandra juga mengatakan beberapa survei terakhir menunjukkan daya tarik sektor migas Indonesia terus membaik. Posisi Indonesia di peringkat 25 mengalahkan Malaysia di peringkat 33 dan juga Rusia, Mesir, dan Venezuela dalam Petroleum Economics and Policy Solutions (PEPS) 2018. 

Minat investor juga berasal dari perusahaan migas besar seperti Repsol Spanyol dan ENI Italia. 

Kepala SKK Migas Dwi ­Soetjipto mengatakan, saat ini pihaknya sedang fokus menawarkan 10 lapangan gas besar kepada calon investor. 

Hingga 28 Februari 2019 , jumlah wilayah kerja di Indonesia mencapai 220 WK dengan produksi ­minyak 768 barel per hari, produksi gas 1,311 ribu barel per hari, produksi migas 2,079 ribu barel per hari, investasi hulu migas US$1,37 miliar, 5 sumur melalui pengeboran eksplorasi, serta 30 sumur melakui pengeboran.

Butuh dukungan
Meski pemerintah telah mengeluarkan serangkaian insentif bagi pengelolaan hulu migas, sejumlah praktisi migas yang hadir masih berharap ada insentif tambahan. 

Mereka juga butuh dukungan pemerintah pusat guna menyelesaikan masalah perizinan yang melibatkan pemerintah daerah. 

“Izin dan pembebasan lahan itu selesai 60 hari. Bila itu bisa dilakukan, akan menghemat pengeluaran dari kontraktor karena langsung bekerja begitu mendapatkan ­kontrak,” kata Eddy Tampi. 

Praktisi migas Wewe Anggreaningsih mengatakan kebijakan satu pintu menjadi solusi bagi investor dalam melakukan realisasi investasi migas.   

“Sehingga apa pun bentuknya nanti, apakah BUMN atau badan usaha khusus, investor jelas berhadapan untuk pengurusannya,” ujar Wewe. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya