Jurus Membangun Wirausaha Teknologi

Rizky Noor Alam
04/3/2019 05:00
Jurus Membangun Wirausaha Teknologi
(CEO Queenrides, Iim Fahima -- MI/RAMDANI)

PEMERINTAH melakukan banyak hal untuk mendorong pertumbuhan perusahaan- perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup). Bahkan, pemerintah berharap muncul lagi sejumlah unicorn baru.

Menurut CEO Queenrides, Iim Fahima, setidaknya ada dua hal yang harus dibenahi pemerintah guna mendorong jiwa kewirausahaan membangun startup pada generasi muda. “Misalnya, kenapa di Amerika bisa tumbuh? Pertama, berangkat dari sistem pendidikan. Entrepreneurship ditumbuhkan dari mereka kecil. Kalau di sini hanya sebagai bagian ekstrakurikuler,” ungkap Iim dalam acara diskusi bertajuk Getting Gritty: The Backbone of Successful Entrepreneurship di @ america, Jakarta, pekan lalu.

Bagi Iim, pendidikan di masa kanak-kanak punya peran besar dalam membentuk diri pada masa depan. Salah melakukan pendidikan di usia dasar, pengaruhnya besar juga pada seseorang.

Iim pun menyoroti proses penilaian pendidikan di Indonesia yang menyamaratakan proses ujian seperti ujian nasional dan sistem yang sama. Hal tersebut dianggapnya tidak menumbuhkan keunikan pada tiap individu.

“Kedua, iklim harus dibangun oleh regulasi-regulasi pemerintah, seperti pajak. Di Inggris, zero tax untuk industri art. Saya melihat sudah menuju ke sana, tapi ini bukan kerja satu institusi saja, melainkan seluruh anggota kabinet,” ucap Iim.

Di tempat yang sama, CEO of Live, Satrio Rama Widyowicaksono, mendukung hal itu. Amerika, imbuhnya, amat memperhatikan basis data yang menjadi dasar pembangunan kewirausahaan. Ini tampak dari tiap pelajaran sekolah di ‘Negeri Paman Sam’ mengarah pada kebutuhan bisnis.

Co Founder and CEO of Crowde, Yohanes Sugihtononugroho, menambahkan faktor budaya turut memengaruhi jiwa kewirausahaan. “(Di Indonesia) orangtua ingin (anaknya) menjadi PNS. Kalau di Amerika, usia 17 tahun sudah dituntut untuk hidup mandiri,” pungkas Yohanes.

Penguasaan data

Mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu, sependapat bahwa bangsa ini perlu melakukan investasi pada sumber daya manusia dalam rangka memperbaiki sistem pendidikan dan pemerintahan. Ia menekankan pada penguasaan data yang besar akibat koneksi siber. Penguasaan data berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.

“Pengambilan keputusan bisa dalam tataran privat seperti konsumsi barang dan jasa di keseharian ataupun secara bisnis agar perusahaan memperbaiki sistem produksi sehingga lebih efi sien. Semua akses pada data memungkinkan diferensiasi di level individual behaviour yang bersifat personal dan menghadirkan referensi personal,” papar Mari.

Lebih jauh, ia menggambarkan perusahaan yang punya anak usaha retail, bank, hingga pabrik. Mereka memiliki data, tetapi berada pada tiap-tiap anak usaha tanpa ada koneksi.

Jika anak usaha saling terkoneksi, perusahaan akan memperoleh nilai tambah yang luar biasa lewat analisis data. Begitu pun pemerintah harus memiliki data warga untuk program kesehatan dan pendidikan.

Nayoko Wicaksono selaku CEO dari Algoritma Data Science Center mengungkapkan bahwa perjalanan Indonesia masih panjang untuk mencapai pada penguasaan data. Hal itu sangat memerlukan konektivitas antara setiap institusi, baik di ranah pemerintah maupun swasta untuk mewujudkannya. (S-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya