Kadin Soroti Masalah Produktivitas di Indonesia

Nur Aivanni
27/2/2019 18:24
Kadin Soroti Masalah Produktivitas di Indonesia
(MI/PERMANA)

KETUA Umum KADIN Rosan Roeslani mengatakan bahwa Indonesia memiliki sejumlah tantangan dalam memasuki revolusi industri 4.0, salah satunya mengenai produktivitas di Indonesia. Demikian disampaikannya dalam acara KADIN Enterpreneurship Forum dengan tema Boosting Indonesia's Enterpreneurial in Disruptive Economy Era.

"Kalau kita lihat, masalah tenaga kerja, masalah produktivitas. Di satu sisi kita tahu, kalau kita bilang kenaikan dari upah buruh pasti setiap tahun, tetapi kita tidak pernah memikirkan masalah produktivitas dari tenaga kerja. Kita tidak pernah membicarakan bagaimana meningkatan daya saing dari tenaga kerja," kata Rosan di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (27/2).

Baca juga: Transaksi Cashless Baru Capai 2%

Padahal, sambung Rosan, pasar digital ekonomi Indonesia diprediksi bisa mencapai USD 150 miliar pada 2025 dan di tahun yang sama pasar digital ekonomi di Asia Tenggara mencapai USD 260 miliar. "Kalau kita lihat dari angka itu, Indonesia akan menjadi leader di digital ekonomi di Asia Tenggara," katanya.

Menanggapi masalah produktivitas, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa produktivitas memang penting. Menurutnya, produktivutas adalah fungsi dari efisiensi dalam ekonomi.

"Makanya, kenapa Presiden Joko Widodo fokus pada infrastruktur? Nonsense kita meningkatkan produktivitas kalau ongkos angkut saja di dalam negeri lebih mahal. Produktivitaa tidak mungkin naik kalau tenaga kerja tidak punya knowledge dan skill," katanya.

Maka itu, sambungnya, pemerintah telah menyediakan anggaran di bidang pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk untuk pendidikan dan pelatihan vokasi.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0

Selain itu, kata Sri Mulyani, pemerintah juga terus berusaha untuk menyederhanakan regulasi yang ada di Indonesia. Ekonomi tidak mungkin akan produktif jika regulasi dan perizinannya berbelit-belit. Maka itu, pemerintah telah merilis sistem perizinan terintegrasi berbasis daring atau Online Single Submission (OSS).

"Kenapa doing business kita perbaiki dengan berbagai regulasi, termasuk pemda melalui perdanya ribuan yang dibatalkan? Itulah esensi produktivitas," tandasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya