Aliran Modal Asing Perlu Diarahkan untuk Ekspor

MI
24/2/2019 07:30
Aliran Modal Asing Perlu Diarahkan untuk Ekspor
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

MENINGKATNYA aliran portofolio inflow atau aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejak awal tahun hingga kini harus diimbangi dengan iklim investasi yang semakin kondusif agar aliran modal asing itu bertahan di Indonesia.

"Yang jelas harus membuat iklim investasi semakin kondusif," ungkap pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Selain itu, menurut dia, investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia harus diarahkan untuk ekspor dan produktivitas. Jika hal tersebut tidak dilakukan, dikhawatirkan hanya akan membebani defisit pada neraca transaksi berjalan.

Dia menjelaskan iklim investasi saat ini pada satu sisi, yakni ease of doing business (EODB) membaik, tetapi untuk pajak dinilai belum bersahabat karena masih tinggi.

Kepala Peneliti Kebijakan Sektor Keuangan dan Makroekonomi LPEM-FEUI Febrio N Kacaribu menyampaikan pengaruh masuknya investasi portofolio asing dalam tiga bulan terakhir telah memperbaiki rupiah menjadi salah satu mata uang yang meningkat paling pesat bersamaan dengan mata uang Thailand, Filipina, dan Malaysia.

Mata uang rupiah diketahui dalam dua bulan terakhir berada di kisaran 14.000 per dolar AS.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia menyampaikan aliran portofolio inflow atau aliran modal asing yang masuk Indonesia sejak awal tahun hingga 21 Februari 2019 sudah mencapai total Rp45,9 triliun.

"Inflow sampai 21 Februari sebesar Rp45,9 triliun sudah lebih besar daripada keseluruhan inflow pada 2018," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di kompleks Masjid Baitul Ihsan, Jakarta, Jumat (22/2).

Nilai itu terdiri atas aliran dana asing yang masuk ke surat berharga negara (SBN) sebesar Rp33,9 triliun, ke saham sebesar Rp11,3 triliun, dan ke dalam sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar Rp1,1 triliun.

Adapun pada 2018, inflow selama setahun mencapai Rp13,9 triliun, terutama pada SBN sebesar Rp20,1 triliun, sedangkan saham terjadi outflow Rp6,5 triliun.

"Kepercayaan investor terbukti dari terus masuknya aliran modal asing, baik saham maupun obligasi pemerintah. Setiap lelang obligasi pemerintah mengalami oversubcribe dan demikian di harga saham terus mengalami peningkatan," pungkas Perry.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir menilai hal itu menunjukkan Indonesia tempat menarik untuk investasi.

Lebih lanjut, ia menyampaikan pemerintah telah memperbaiki iklim investasi di dalam negeri. Mulai adanya kemudahan dalam berusaha, online single submission (OSS), pemberian fasilitas tax holiday, hingga kemudahan ekspor.

Dengan begitu, ia meyakini foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung juga akan mengalir masuk ke Indonesia. (*/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya