Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOMI Indonesia tumbuh sedikit di atas ekspektasi di tengah ketidakpastian global sepanjang 2018 dengan pertumbuhannya yang tercatat tertinggi sejak 2014 sebesar 5,17% (yoy).
Kuatnya kondisi fundamental juga terlihat pada inflasi yang rendah dan stabil. Tren apresiasi rupiah, yang sempat di bawah Rp14.000 di awal Februari, didorong derasnya arus modal masuk sejak Oktober 2018.
Tekanan eksternal sebelumnya mengancam pasar, kini perlahan mereda seiring dengan pelemahan global yang sudah hampir pasti terjadi dalam dua tahun ke depan.
Baca juga : Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%
"Ini akan berkontribusi terhadap pelemahan harga komoditas. Tren ini menciptakan tantangan dari neraca perdagangan dalam beberapa waktu mendatang," ujar Kepala Kajian Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Febrio Kacaribu, Kamis (21/2).
Di sisi lain, harga minyak mentah akan terus menjadi sumber ketidakpastian bagi rupiah pada 2019. Harga minyak mentah telah menyentuh tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena pengurangan pasokan oleh produsen.
"Secara keseluruhan, kami memandang Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakan BI 7 Day Reverse Repo Rate pada Rapat Dewan Gubernur bulan ini," ujar Febrio.
Baca juga : Hadapi Lebaran 2021, BI Kalteng Siapkan Rp3,35 Triliun
Bank Indonesia sepanjang 2018 memang telah menaikkan suku bunga kebijakan mereka sebanyak 175bps dan menyentuk level 6%.
Febrio menjabarkan beberapa indikatornya, antara lain memasuki awal 2019, inflasi umum mengalami penurunan secara tahunan maupun bulanan menjadi sebesar 2,82% (yoy) dan 0,32% (mtm) dari 3,13% dan 0,62% pada Desember 2018.
Harga bahan makanan yang lebih terkendali serta terjadinya penurunan harga BBM nonsubsidi menjadi dua pendorong utama deflasi pada Januari 2019.
Baca juga : Mencari Jodoh di Museum Bank Indonesia
"Meskipun turun cukup signifikan, nilai inflasi tahunan masih tergolong aman mengingat tetap berada pada koridor inflasi acuan BI yakni 2,5%-4,5%," kata Febrio
Sementara, tren musiman kenaikan permintaan untuk beberapa kebutuhan rumah tangga seperti pembayaran sewa rumah hingga upah pekerja rumah tangga di awal tahun tergambarkan pada peningkatan inflasi inti menjadi 0,30% (mtm) dari 0,17% pada bulan sebelumnya.
"Inflasi inti tahunan tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan dari bulan sebelumnya yakni menjadi 3,06% (yoy) dari sebelumnya 3,07%," imbuhnya.
Baca juga : Ramadan-Idul Fitri, BI Siapkan Uang Baru Sebesar Rp151,14 Triliun
Data pertumbuhan ekonomi Triwulan IV-2018 merefleksikan kondisi internal yang agak lebih kuat dari sebelumnya. Ekonomi tumbuh sedikit lebih tinggi dibandingkan Triwulan-III-2018 yakni menjadi 5,18% (yoy), membuat ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2018 tumbuh 5,17% (yoy).
Angka tertinggi sejak berakhirnya periode commodity boom ini terjadi karena pertumbuhan positif dari seluruh sektor ekonomi pada Triwulan IV-2018, yang paling tinggi berasal dari sektor jasa sebesar 9,08% (yoy).
Sementara itu, sebagai sektor dengan pangsa terbesar, industri pengolahan tumbuh positif, tetapi masih tetap berada di bawah 5%.
Baca juga : Workshop Santri Penopang Kemandirian Pesantren
Di tengah ketidakpastian ekonomi sepanjang tahun kemarin, konsumsi tumbuh sangat kuat sehingga sektor perdagangan besar dan ritel ikut tumbuh dengan signifikan sebesar 5,58% (yoy).
"Tingginya pertumbuhan konsumsi masyarakat merupakan penolong utama dari kondisi fundamental Indonesia dan diprediksikan akan tetap menguat sepanjang tahun 2019," tukas Febrio. (OL-2)
Baca juga : Tenun Masalili Menolak TerpinggirkanÂ
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved