Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat cukup kuat di awal tahun ini. Kendati demikian, ia mengatakan pihaknya tetap mewaspadai risiko global yang mengalami peningkatan.
"Pada Januari ini, meski di dalam negeri terlihat momentum pertumbuhan ekonomi kita cukup kuat, kita juga melihat bahwa risiko global mengalami peningkatan," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (20/2).
Indonesia, kata Sri Mulyani, termasuk sedikit negara yang pertumbuhan ekonominya pada 2018 (5,17%) lebih tinggi dibandingkan 2017 (5,07%). Hal itu berbeda misalnya dengan India yang pertumbuhan ekonominya pada tahun 2018 (7,2%) mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017 (8,2%).
Begitu pula, pertumbuhan ekonomi Singapura turun menjadi 3,3% (2018) dari 3,9% (2017). Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Jepang juga mengalami penurunan dari 1,7% (2017) menjadi 1,4% (2018) serta Tiongkok dari 6,8% (2017) menjadi 6,6% (2018).
Kondisi tersebut, kata Sri Mulyani, menggambarkan lingkungan global mengalami tekanan jelang akhir tahun 2018 dan diperkirakan akan berlanjut di 2019. "Dari pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memiliki momentum yang positif dan menguat, sementara negara-negara lain melemah," kata Sri Mulyani.
Untuk realisasi APBN periode Januari 2019, Sri Mulyani mengatakan baik dari pendapatan negara dan belanja negara menunjukkan adanya pertumbuhan yang cukup positif. Realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 108,1 triliun atau 5% dari target APBN 2019. Angka tersebut tumbuh sebesar 6,24% dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun 2018 yang mencapai Rp 101,7 triliun.
Realisasi pendapatan negara tersebut didukung oleh realisasi penerimaan perpajakan sebesar Rp 89,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 18,3 triliun. Lebih rinci, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 86,00 triliun atau 5,45% dibandingkan dengan target dalam APBN 2019. Sementara, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 3,8 triliun atau tumbuh 6,70% (yoy).
Adapun realisasi belanja negara higga akhir Januari 2019 sebesar Rp 153,8 triliun atau 6,3% dari target APBN 2019. Angka tersebut meningkat 10,35% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018. Realisasi tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp 76,1 triliun atau 4,7% dari target APBN 2019 dan transfer ke daerah serta dana desa yang mencapai Rp 77,7 triliun atau 9,4% dari target APBN 2019.
Maka itu, realisasi defisit anggaran untuk Januari 2019 adalah sebesar Rp 45,8 triliun atau 0,28% terhadap PDB dengan nilai defisit keseimbangan primer Rp 22,8 triliun. "Ini lebih besar dari tahun lalu Rp 37,7 triliun (atau 0,25% terhadap PDB)," kata Sri Mulyani. Adapun realisasi pembiayaan anggaran periode Januari 2019 sebesar Rp 122,5 triliun, maka terdapat kelebihan pembiayaan anggaran sebesar Rp 76,8 triliun. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved