Reksa Dana Saham Pilihan Investasi Jangka Panjang

(Try/E-3)
15/2/2019 02:30
Reksa Dana Saham Pilihan Investasi Jangka Panjang
(MI/USMAN ISKANDAR)

REKSA dana saham masih menjadi pilihan investasi jangka panjang bagi investor dengan imbal hasil yang optimal ketimbang reksa dana lainnya. Itu lantaran dipicu kondisi pada awal tahun ini yakni ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiong­kok yang mereda sehingga mengurangi ketidakpastian arah pasar keuangan pada 2018 lalu.

Pada Januari 2019 juga, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan AS di angka 2,25%-2,50% yang mengurangi kekhawatiran investor terhadap terlalu cepatnya kenaikan suku bunga AS. Sebagai respons atas kebijakan The Fed tersebut, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo Indonesia pada level 6,00%.

“Selain itu, prediksi mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi global pada 2019 cenderung menjadi sentimen cukup baik bagi emerging market karena meski pertumbuhan developing market dipre­diksi melambat, pertumbuhan emerging market diprediksi stabil dan cenderung membaik,” kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya di Jakarta, Kamis (14/2).

Terlebih, Indonesia sebagai salah satu negara emerging market dengan fundamen kuat memberikan tingkat return dan risiko menarik sebagai tujuan investasi investor asing. Hal ini terlihat dari total da­na asing yang tercatat net buy sebesar Rp11,31 tri­liun di pasar saham Indonesia sepanjang Januari 2019 dan penguatan mata uang Indonesia rupiah terhadap dolar AS sebesar 2,88%.

Dari sisi domestik, fundamen Indonesia pun cukup kuat terlihat dengan terjaganya nilai inflasi sepanjang 2018 sebesar 3,13% yang menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia tengah stabil.

Ivan menyampaikan pertumbuhan ekonomi umumnya positif ke pertumbuhan pasar saham sehingga untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham mere­ka sebesar 70% dalam portofolio.

Meski demikian, Ivan menyebutkan ada beberapa agenda yang masih harus diperhatikan, seperti perkembangan politik Inggris, perlambatan ekonomi AS dan Tiongkok, dan menjelang pemilihan presiden Indonesia pada April 2019. (Try/E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya