Mayoritas Masyarakat tidak Siapkan Masa Pensiun

Fetry Wuryasti
13/2/2019 04:30
Mayoritas Masyarakat tidak Siapkan Masa Pensiun
(Anthony WALLACE / AF)

SURVEI global HSBC Future of Retirement 2018 menyebutkan masyara­kat Indonesia yang memiliki tabungan pensiun saat ini terbilang rendah.

Hasil survei pada 1.050 res-ponden dari kalangan usia kerja menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang memiliki tabung­an pensiun hanya 30%.

“Namun, dari survei terungkap pula 68% dari total responden berharap masa pensiun yang nyaman dan tenang,” kata Head of Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia Steven Sur­yana di Jakarta, Selasa (12/2).

Kesenjangan tersebut mengakibatkan mayoritas responden khawatir atas kemandirian se­cara finansial ketika masa pensiun nanti.

Sebanyak 86% khawatir dapat hidup dengan nyaman, 83% khawatir bakal meningkatnya kebutuhan biaya kesehatan, serta 77% khawatir kehabisan dana pensiun.

“Masa pensiun ialah saat seseorang idealnya menikmati masa istirahat bersama keluarga setelah bertahun-tahun bekerja. Namun, ini harus direncanakan dengan matang sedari dini. Sa­yang kesadaran itu ­biasanya timbul saat kita sudah mendekati masa pensiun,” ujar Steven.

Di Indonesia, masa pensiun saat ini sering diasosiasikan dengan waktu untuk bermain dan merawat cucu. Namun, survei ini menunjukkan 67% responden usia kerja menyatakan akan lanjut bekerja setelah pensiun, seperti memulai menjadi wirausaha (54%).

Sisanya memilih mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tabungan (29%), kembali mencari pekerjaan (25%), serta membangun kos-kosan atau menyewakan rumah (19%).

“Yang juga mengkhawatirkan ialah lebih dari 75% responden usia kerja mengharapkan anaknya akan membantu mereka pada masa pensiun, sedangkan kenyataannya kini cuma kurang dari 33% responden usia pensiun menerima bantuan dari anaknya,” lanjut dia.
Karena itu, Steven menganjurkan perencanaan pensiun mulai dipersiapkan sedari dini.

“Harus dimulai secepatnya sebab masa bekerja hanya 30-40 tahun,” ujar Steven.

Steven menganjurkan saat in­vestasi, mulailah dengan inves­tasi yang lebih agresif ketika mu­da dengan jangka waktu 15 tahun. Kemudian, 15 tahun berikutnya, investasi pada instrumen yang lebih konservatif.

Investasi
Pentingnya perencanaan masa pensiun juga pernah diutarakan Menteri PPN/Kepala Badan Pe­rencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro.

Bambang menyampaikan, berdasarkan Buku Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045, pada 2022 Indonesia akan didukung 60 pekerja produktif untuk menopang sekitar 100 orang penduduk.

Dengan dukungan tersebut, termasuk mendorong penduduk usia produktif untuk mengin­vestasikan pendapatannya, ma­ka bonus demografi berpotensi untuk diraih sebesar-besarnya 0,6% terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, diperlukan upaya efektif dalam pemanfaat­an bonus demografi.

Kebijakan dan program perlu disusun untuk mendukung investasi sumber daya manusia antara lain melalui perluasan pendidikan menengah menyeluruh, peningkatan akses dan mutu pendidikan tinggi, peningkatan keterampilan, serta peningkatan investasi. Peningkatan investasi ini didukung dengan pengembangan produk tabungan, deposito, saham, serta instrumen investasi jangka panjang lainnya.

“Semua rencana akan berja­lan baik jika didukung stabilitas politik dan ekonomi, sistem perbankan serta investasi yang mumpuni, cakupan jaminan sosial yang menyeluruh dan komprehensif, dan sistem pensiun yang berkesinambungan,” tukas Bambang seperti dikutip dari situs resmi Bappenas. (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya