Pergerakan Rupiah Tergantung Situasi AS dan Perang Dagang

(Try/E-1)
13/2/2019 03:45
Pergerakan Rupiah Tergantung Situasi AS dan Perang Dagang
( ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

NILAI  tukar rupiah terimbas perkembangan situasi politik di Amerika Serikat (AS) terkait dengan berulangnya shutdown pemerintah AS pada 15 Februari dan kemungkinan terganjalnya penyelesaian perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang  sempat menyentuh 13.922 per dolar AS pada Rabu pekan lalu (6/2) mulai terseret hingga kembali di atas 4.000 per dolar AS. Rupiah pada perdagangan kemarin ditutup pada level 14.067,5 atau melemah 0,24% dari penutupan Senin (11/2).

Pengamat ekonomi dari ADB Institute, Eric Sugandi, sebelumnya sudah memperkirakan penguatan rupiah sejak awal tahun memang akan terbatas ruangnya. Dalam jangka pendek, jika shutdown terjadi, dolar AS akan melemah sehingga mata uang emerging markets termasuk rupiah bisa menguat, tapi tidak ada sustainable atau keberlanjutan.

“Shutdown yang berkepanjangan membuat kebijakan fiskal AS tidak bisa berjalan dengan baik,” ujar Eric saat dihubungi,  Selasa (12/2).

Di sisi lain, perundingan dagang antara AS dan Tiong-kok yang sedang dalam fase ‘gencatan senjata’ hingga 1 Maret belum bisa diprediksi. Bila kesepakatan dari perang dagang ini belum terwujud,  akan merugikan negara berkembang. Investor mengalih-kan aset yang berisiko dan membeli aset aman (safe haven) seperti surat utang AS, emas, dan dolar.

“Ini terlihat dari dollar index yang konsisten naik 1,28% dalam seminggu terakhir ke level 97. Artinya kita perlu mewaspadai adanya capital reversal atau pembalikan dana, yang sebelumnya banjir masuk ke pasar negara berkembang sekarang keluar lagi,” ujar pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara. (Try/E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya