Industri Perlu Direvitalisasi

Nur Aivanni
07/2/2019 23:45
 Industri Perlu Direvitalisasi
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

DI tengah tekanan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada tahun lalu mampu mencapai 5,1%, diapresiasi banyak pihak. Namun, pemerintah perlu mengubah struktur ekonomi agar bisa lebih melesat.

“Banyak negara bisa melakukan lompatan pertumbuhan ekonomi. Vietnam, misalnya, saat ini bisa tumbuh di kisar-an 7%. Syaratnya ialah pemerintah harus melalukan reformasi struktural,” kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah kepada Media Indonesia, Kamis (7/2).

Reformasi struktural yang dimaksud ialah mengubah struktur ekonomi dari yang bersandar pada barang komoditas menjadi kembali pada industri yang selama beberapa tahun terakhir ini mengalami deindustrialisasi.

Deindustrialisasi, terang Piter, tampak jelas dari kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terus menurun.

“Dilihat dari nilai produksi sektor industri pengolahan dibandingkan nilai total PDB menurut harga berlaku, terjadi penurunan porsi. Fenomena ini dikenal sebagai gejala atau indikasi deindustrialisasi,” terangnya.

Proses deindustrialisasi, sambung Piter, sebenarnya telah berlangsung sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan di era pemerintahan Joko Widodo.  

Menurut Piter, selain mendorong sektor industri, yang perlu dilakukan pemerintah ialah mereformasi sektor keuangan agar suku bunga perbankan tidak lagi tinggi dan kaku sehingga menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

Reformasi struktural itu, kata dia, harus dilakukan secara bersamaan dan ada sinergi antarkementerian sehingga bisa menimbulkan multiplier effect.

Sektor maritim
Secara terpisah, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, inklusif, dan ­berkelanjutan, pemerintah harus lebih serius menggarap potensi dari sektor maritim.

Potensi ekonomi maritim, kata dia, saat ini baru dimanfaatkan sekitar 25%. Kontribusi sektor perikanan juga sangat kecil yakni sekitar 2,7% terhadap PDB dengan nilai ekspor hanya US$3,2 miliar pada 2017.

“Padahal, wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan laut Indonesia mengandung beragam potensi pembangunan yang sangat besar,” ucap Rokhmin.

Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,17%. Angka itu menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan di 2017 (5,07%), 2016 (5,03%), dan 2015 (4,88%). Tahun ini, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,3%.

“Ya ini patut kita syukuri, alhamdulillah, 5,17%, itu sebuah angka yang baik kalau dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Presiden Jokowi seusai menghadiri Perayaan Imlek Nasional 2019 di Kemayoran, Jakarta, Kamis (6/2).

Presiden berharap pertumbuhan ekonomi di 2019 bisa lebih tinggi dari 2018 dengan mendorong ekspor dan investasi. “Kita juga mendorong agar barang-barang substitusi impor dipro-duksi di dalam negeri, sementara terkait investasi, kita terus memperbaiki dan menyederhanakan perizinan, baik di pusat maupun di daerah,” kata Presiden. (*/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya