Gaya Hidup Ubah Pola Konsumsi

Fetry Wuryasti
07/2/2019 03:00
Gaya Hidup Ubah Pola Konsumsi
(MI/MOHAMAD IRFAN )

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan bertumbuh 5,08% pada triwulan IV 2018.

Menariknya terjadi perubahan pola konsumsi di masyarakat seiring dengan perkembangan gaya hidup. Konsumen lebih senang membeli makanan jadi secara online ketimbang memasak sendiri. Hal itu membawa implikasi pada melambatnya pertumbuhan konsumsi makanan dan minuman. Sementara di sisi lain,  pertumbuhan di sektor transportasi dan komunikasi tumbuh lebih tinggi (lihat grafik).

“Makanan dan minuman selain restoran sekarang tumbuh melambat jadi 4,81%. Di sisi lain, transportasi komunikasi dan restoran tumbuh cepat. Ada switching dari behavior konsumen rumah tangga ketika makanan jadi mudah diperoleh lewat jasa online yang pengaruhi ini,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta,Rabu (6/2)

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan  sektor yang berkaitan dengan leisure atau gaya hidup meningkat cukup pesat.

“Mungkin orang lebih suka selfie daripada masak makanan. Bahan makanan tidak masuk ke leisure, tapi makanan  masuk (sektor leisure) dan naik,” ujar Sri.

Peningkatan permintaan pesan antar atau delivery juga terekam dari survei BPS akan kategori belanja restoran di semua kabupaten/kota.

“Setiap triwulan kami tracking. Kami juga cross checked ke pelaku jasa delivery, juga ada survei ke pengeluaran, perta-nyaannya detail dan itu dilakukan setiap bulan. Ada panel dan pergerakannya,” tandas Sri.

Meningkat 10 kali
Marketing Director Grab Indonesia Mediko Azwar mengatakan layanan pesan antar makanan mereka, yakni GrabFood, tumbuh 10 kali lipat sepanjang 2018. GrabFood mengalami pertumbuhan ­eksponensial di 2018. Di wilayah Asia Tenggara, jumlah pesanan GrabFood telah tumbuh sebesar 10 kali, dari Januari hingga Desember 2018.

Di Indonesia, GrabFood telah hadir di 178 kota--di setiap kota dengan layanan transportasi Grab tersedia. Pada 2018, jumlah pengantaran makanan dengan GrabFood naik enam kali, dan jumlah merchant tumbuh sebanyak delapan kali.

“Kini kami memiliki ratusan ribu merchant tergabung dalam GrabFood, dan lebih dari 80% merupakan pengusaha mikro, kecil, dan menengah,” ujarnya.

Dalam lima bulan setelah bergabung dalam GrabFood, para merchant di Indonesia mendapatkan 88% pendapatan inkremental yang lebih besar.

Mitra pengemudi mendapatkan 40% penghasilan lebih banyak dengan mengambil pekerjaan pengantaran makanan, di luar pendapatan dari layanan transportasi.

Penyedia jasa layanan pesan antar makanan lainnya, Go-Food, melaporkan bahwa pada 2018 lalu sebanyak 16,5 juta paket makanan telah diantar.

Menu paket ayam menempati urutan pertama sebanyak 10 juta pesanan, aneka nasi 3,5 juta, disusul mi sebanyak 1,5 juta kali pesanan.

VP Marketing Go-Food Aristo Kristandyo mengatakan, selain makanan berat, masyarakat juga menyukai aneka makanan ringan dan minuman. Hal itu terlihat dari banyaknya jumlah pesanan kopi sebanyak 1,5 juta kali, disusul gorengan yaitu 1,2 juta, dan martabak sebanyak 760 ribu kali pemesanan.

Data yang diungkap para penyedia jasa layanan itu mengonfirmasi bahwa tren perubahanan pola konsumsi sedang terjadi di Indonesia. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya