Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo berjanji akan menaikkan harga gula yang belakangan anjlok di tingkat petani.
Hal itu disampaikan Presiden seusai mendengarkan keluh kesah para petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Istana Negara, Rabu (6/2).
"Harga minta naik ke Rp10.500. Tolong beri waktu seminggu. Jangan saya baru tahu terus minta diputuskan. Intinya kita naikan, berapanya, belum diputuskan. Nanti saya undang petani APTRI," ujarnya saat menyimpulkan harapan-harapan para petani tebu.
Dalam pertemuan itu, hadir para petani tebu dari pelbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur hingga Lampung. Presiden memanggil masing-masing perwakilan daerah guna menyampaian persoalan-persoalan yang mereka hadapi.
Pada umumnya, persoalan yang dihadapi para petani seragam, yakni rendahnya harga gula di pasaran dan tingginya ongkos produksi. Mulyadi, petani asal Jawa Barat mengatakan, rendahnya harga gula lokal disebabkan membanjirnya gula impor di pasaran ketika masa panen. Akibatnya, harga gula lokal jatuh.
"Sejak 2016 sudah mulai menurun karena ada gula impor yang merembes ke pasaran konsumen bukan untuk industri makanan dan minuman. Kami mohon kalau impor gula tidak waktu panen keluarnya," tandasnya.
Sementara, Mulyadi asal Jawa Barat menambahkan, petani membutuhkan mesin traktor untuk membantu di masa tanam dan panen. Menurutnya, bantuan dari Kementerian Pertanian belum sepenuhnya menyentuh seluruh lapisan petani.
Selain itu, Mulyadi juga mengusulkan agar pemerintah merevitalisasi pabrik-pabrik gula yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
"Menurut kami pabrik peninggalan Belanda harus diperbaiki. Di Jawa Barat, tinggal tiga pabrik, dulu ada lima," tandasnya.
Adapun Ketua APTRI Soemitro Samadikun meminta agar Bulog membeli harga gula di petani minimal setara biaya pokok produksi (BPP) yakni Rp10.500/kg. Bulog, sambung dia, hanya bersedia membeli gula dari petani sebesar Rp9.700/kg.
"Itupun Bulog belum menyentuh seluruh petani karena yang dibeli hanya petani yang tebunya digiling di BUMN. Sedangkan yang tidak, misalnya Kebun Agung, gulanya tidak dibeli sehingga harga jatuh di bawah Rp 9.000," tandasnya.
Sepanjang mendengar keluh kesah para petani, Presiden sibuk mencatat di secarik kertas. Pada akhir acara, ia merangkumnya dan membacakan daftar permintaan petani.
"Pabrik BUMN harus direvitalisasi, harga naik, bansos tebu diadakan lagi, sistem bagi hasil tetap ada, rendemen individu, traktor. Saya sengaja mendengar langsung dari pelaku sehingga bisa cepat paham. Beri saya waktu untuk memutuskan," pungkasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved