Ekspor Baja Pelecut Industri Dalam Negeri

Cahya Mulyana
01/2/2019 01:00
Ekspor Baja Pelecut Industri Dalam Negeri
(MI/Susanto)

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan pelepasan ekspor produk baja ke dua negara untuk pertama kalinya pada tahun ini oleh PT Gunung Raja Paksi (GRP) Tbk bisa menjadi pelecut semangat dalam memacu industri dalam negeri dan ekspor.

“Ekspor baja PT GRP merupa­kan momentum luar biasa. Ini bisa menjadi katalis sangat penting, tidak saja mendorong pertumbuhan industri domestik, tetapi juga terus menangkap peluang pasar global dan memacu ekspor nasional,” kata Enggartiasto seusai melepas ekspor itu di Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, kemarin.

Sebanyak 300 ton baja struktur diekspor ke Sri Lanka dan 400 ton pelat baja ke Australia dari hasil produksi PT Gunung Raja Paksi (GRP) Tbk. Enggar, begitu ia disapa, mengatakan besi dan baja merupakan komoditas yang sangat penting bagi pembangunan bangsa. Besi dan baja merupakan bahan yang dipakai dalam ber­ba­gai industri karena sifat-sifatnya yang bervariasi dan fleksibel, dari industri konstruksi dan bangunan, otomotif, sampai peralatan dapur dan rumah tangga.


“Kinerja ekspor Indonesia perlahan mulai menunjukkan performa cukup baik, dan Kemendag terus menyesuaikan berbagai kebijakan,” ujarnya.

Tercatat total ekspor Indonesia meningkat dari US$168,82 miliar pada 2017 menjadi US$180,06 miliar pada 2018 atau naik 6,65%. Adapun ekspor nonmigas mencapai US$162,65 miliar, naik 6,25%.

Selanjutnya ekspor besi dan baja Indonesia pada 2018 meningkat tajam dari US$3,33 miliar pada 2017 menjadi US$5,75 miliar pada 2018 atau naik sebesar 72,40%.

Peran industri
Menurut Enggar, kebijakan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dan daya saing produk ekspor Indonesia tidak dapat berdiri sendiri tanpa peran aktif pelaku usaha untuk berkomitmen mengembangkan usahanya dan mendukung perekonomian nasional.

Karena itu, kata Enggar, pemerintah terus mendo­rong PT GRP agar terus meningkatkan kontribusi dalam perdagangan global dengan mengembangkan pasar tujuan ekspor ke negara lain seperti Amerika Serikat, terutama setelah ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara Hanwa American Corp dan Gunung Steel Group untuk ekspor baja batangan yang mencapai 50.000 MT.

Kemendag juga, lanjut dia, terus berupaya meningkatkan daya saing dan pangsa pasar ekspor produk Indone­sia lewat diversifikasi pasar dengan membidik pasar nontradisio­nal seperti Afrika, Asia Selatan, Eurasia, Timur Tengah, dan Amerika Latin melalui negosiasi dan inisiasi perjanjian perdagangan bebas serta kegiatan promosi yang berkelanjutan.

“Selain itu, dengan pengamanan perdagangan, baik di dalam dan luar negeri dan mem­fasilitasi perdagangan melalui kebijakan penyederhanaan perizinan perdagangan, serta pembinaan produk dan SDM ekspor,” katanya.

CEO PT GRP Alouisius Maseimilian mengatakan PT GRP optimistis kinerja perusahaan terus meningkat, terlebih dengan beroperasinya fasilitas blast furnace pada semester kedua 2019.

“Fasilitas ini sebagai upa­ya perusahaan untuk mampu me­­menuhi kebutuhan baja nasional yang terus meningkat setiap tahun, serta membuka peluang penjualan lebih banyak lagi di mancanegara. Pe­ningkatan kemampuan itu tentunya berkat dukungan pemerintah, terutama Kemendag, yang membantu mengatasi hambatan perdagangan,” tutup Alouisius. (Pra/E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya