Data Panen Jagung tidak Akurat

(Pra/Nur/E-1)
30/1/2019 00:30
Data Panen Jagung tidak Akurat
( ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

MENTERI  Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memaparkan penyebab lonjakan impor jagung hingga 150 ribu ton.

Sebelumnya Perum Bulog hanya ditugaskan untuk melakukan impor 30 ribu ton guna mengisi permintaan jagung dari peternak sembari menunggu panen jagung di awal tahun hingga pertengahan April.
Data panen yang tidak tepat menjadikan jumlah impor dilipatgandakan hingga lima kali lipat.

Darmin mengatakan belum lama ini menugasi Kementerian BUMN dan Bulog mengecek secara langsung daerah-daerah sentra panen terutama di Jawa Barat dan Jawa Timur. “Ternyata di Jawa Barat panen itu belum ada, tapi sayangnya ada yang bilang sudah ada. Datanya bilang sudah ada, sementara kenyataannya panen belum ada.”

Menurut laporan di lapangan, diprediksi panen baru mulai bergulir pada pertengahan Maret.

“Di Jawa Timur malah April. Padahal permintaan-permintaan dari peternak kecil menengah baik petelur maupun pedaging itu masuk terus,” ujarnya.

Berdasarkan laporan itulah akhirnya pemerintah kembali membuka keran impor 150 ribu ton.

Pengamat pertanian IPB Dwi Andreas mengatakan karut-marut persoalan data jagung jelas menjadi tanggung jawab kementerian teknis terkait yakni Kementerian Pertanian. Mereka dinilai tidak memberikan data dan fakta di lapangan secara valid. Jika penyediaan data terus berjalan seperti saat ini, ia mengatakan sudah semestinya Kemenko Perekonomian mengambil kebijakan berdasarkan pergerakan harga di lapangan.

Dwi memperediksi harga jagung saat  panen raya  belum akan turun lantaran pasar masih sangat haus akan jagung sehingga pasokan yang ada pasti langsung terserap. “Harga baru akan mereda pada April ketika panen sudah mulai banyak dan pasar sudah terisi,” tandasnya.

Ketika dimintai keterangan terkait dengan kesalahan prediksi panen itu, pihak Kementerian Pertanian tidak kunjung memberikan jawaban. (Pra/Nur/E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya