Pemerintah Diminta Perkuat Kebijakan di Sektor Riil

(Try/E-2)
29/1/2019 03:00
Pemerintah Diminta Perkuat Kebijakan di Sektor Riil
( ANTARA FOTO/Wahdi )

PEMERINTAH diminta menjaga derasnya arus modal asing yang mulai masuk di awal tahun sehingga tidak kembali atau keluar ke negara lain. Oleh karena itu, perlu ada perbaikan kebijakan di sektor riil.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani berpendapat, selama ini Indonesia bergantung pada aliran modal asing yang bersifat jangka pendek. “Sekarang kita harus mencoba bisa menyelesaikan persoalan jangka pendek kita, yaitu mendapat devisa bukan dari hot money saja,” jelas dia di Jakarta, Senin (28/1).

Aviliani menyebutkan sektor riil yang bisa didorong pemerintah ialah meningkatka­n eks­por, substitusi impor, hingga pariwisata. Menurutnya, jika digarap secara serius, Indonesia tidak bergantung pada pergerakan nilai tukar.

Untuk diketahui, sejak awal awal tahun hingga 21 Januari 2019, dana portofolio global yang masuk ke pasar surat berharga negara (SBN) dan saham mencapai Rp19,1 triliun.

Selain tekanan faktor global, antara lain melemahnya perekonomian Tiongkok, terdapat faktor penarik atau pull-factors, yaitu selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia dan US treasury bond (10 tahun) yang saat ini mencapai 523 bps.

Level itu termasuk yang terting­gi kecuali bila dibandingkan dengan Brasil (630 bps), Afrika Selatan (599 bps), Meksiko (587 bps), dan Rusia (559 bps). Selain itu, nilai real dari imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia 10 tahun (yield nominal dikurangi tingka inflasi) saat ini mencapai 4,56%, kecuali bila dibandingkan dengan Brasil (5,18%) dan Rusia (4,68%).

Oleh karena itu, mata uang negara-negara itu secara year to date 2019 (ytd) sampai 25 Januari 2010 ini juga menguat tajam, seperti mata uang Rusia (5,0%), Afrika Selatan (3,85%), Brasil (3,2%), dan Meksiko (2,65%). Secara year to date, rupiah menguat sekitar 1,5% karena penguatannya lebih bertahap (smooth).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan tugas BI di pasar valas ialah mengawal pergerakan rupiah baik pada saat rupiah melemah maupun menguat agar lebih terukur perubahannya sehingga tercipta stabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap rupiah tetap terjaga. “Dari perspektif kebijakan makro, yang lebih penting adalah bahwa kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal semakin menguat dan turut menambah dorong­an arus modal masuk ke Indonesia.” (Try/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya