BI Beri Berbagai Kelonggaran agar Warga Mudah Miliki Rumah

(*/E-2)
24/1/2019 23:45
BI Beri Berbagai Kelonggaran agar Warga Mudah Miliki Rumah
( ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

MANAJER Departemen Makro Prudensial Bank Indonesia (BI) Bayu Adi Gunawan menilai rasio kredit kepemilikan rumah (KPR) terhadap produk domestik bruto pada 2017 sebesar 2,9% atau lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina yang 3,8%, Thailand 22,3 %, Malaysia 38,4%, atau Singapura yang sudah 44,8%.

Namun, dia menilai saat ini masih cukup banyak ruang untuk meningkatkan porsi KPR tersebut. “Masih banyak ruang bagi kita untuk mengembangkan sektor properti. Makanya, kita mencoba melonggarkan pada 2018 kemarin,” katanya dalam diskusi Property Outlook 2019 di Jakarta, Kamis (24/1).

Kebijakan pelonggaran loan-to-value atau limit kredit dari BI yang diberlakukan pada tahun lalu membuat bunga KPR masih dalam persentase yang memungkinkan konsumen membeli properti. Dalam situs resminya, melalui kebijakan itu, BI memberikan kewenangan kepada industri perbankan untuk mengatur sendiri jumlah LTV/FTV dari kredit atau pembiayaan pertama sesuai dengan analisis bank terhadap debitur mereka dan kebijakan manajemen risiko bank masing-masing. Kebijakan itu merupakan bagian dari baur-an kebijakan yang ditujukan mendorong perekonomian melalui pertumbuhan kredit pro-perti secara nasional yang pada saat ini masih memiliki potensi akselerasi.

Selain itu, kata Bayu, saat ini pangsa kepemilikan KPR oleh debitur milenial berusia 26-35 tahun meningkat. Sebaliknya, pangsa KPR yang dimiliki oleh debitur usia 36-45 tahun sejak 2014 lalu terus menurun.

Tahun ini, pihak Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menargetkan pertumbuhan sektor properti secara keseluruhan sebesar 10%.  Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) REI Paulus Totok Lusida, alasan penetapan target tersebut karena adanya kemudahan-kemudahan yang diberikan sektor perbankan, perpajakan, dan lain-lain.

“Apalagi dengan tuntasnya pembangunan infrastruktur, kami bukan mau bertahan, tetapi harus tumbuh karena infrastruktur sudah selesai ­semuanya,” ujar Paulus di aca-ra yang sama.

Paulus juga memperkirakan rumah, baik tapak maupun apartemen, dengan harga di bawah Rp2 miliar, akan diminati konsumen pada tahun ini.” (*/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya