Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menuturkan ada sejumlah hal yang harus dilakukan pemerintah sebagai akibat penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh International Monetary Fund (IMF).
"Langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga daya beli khususnya dengan meningkatkan harga komoditas di level petani," kata Bhima kepada Media Indonesia, Rabu (23/1).
Baca juga: CORE Sebut Pemangkasan Proyeksi Ekonomi Dunia tak Pengaruhi Indonesia
Selain itu, lanjutnya, pemerintah perlu mendorong terus program mandatori Biodiesel 20% dan penyerapan karet sebagai bahan campuran aspal. Hal itu dilakukan agar pemerintah terus mendorong adanya oversupply sawit dan harga komoditas karet yang tengah menurun.
"Kemudian pemerintah perlu menggelontorkan lebih banyak stimulus fiskal ke sektor riil, berupa keringanan pajak atau penurunan pungutan ekspor," ucap Bhima.
Juga, sambung dia, pemerintah perlu lebih agresif untuk mempromosikan potensi domestik ke investor sekaligus memperluas pasar ekspor ke negara alternatif.
Untuk diketahui, International Monetary Fund menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari semula 3,7% menjadi 3,5%. Bhima menyampaikan bahwa perlambatan ekonomi dunia tersebut akan menimbulkan sejumlah dampak.
Pertama, perlambatan ekonomi Tiongkok dan Amerika Serikat yang berpotensi mengurangi permintaan bahan baku dari Indonesia baik komoditas energi, tambang, perkebunan maupun perikanan. "Efeknya kinerja ekspor tahun ini diperkirakan hanya ada di kisaran 6%-7%," kata Bhima.
Sebagai informasi, pertumbuhan ekspor di 2018 adalah 6,65%. Porsi ekspor Indonesia ke Tiongkok tercatat 15% di 2018 atau sebesar USD 24,3 miliar. "Sedikit saja ada guncangan di Tiongkok, kinerja ekspor bisa melorot," katanya.
Kedua, melemahnya permintaan dari Tiongkok akan membuat pemulihan harga komoditas berlangsung lebih lama seperti harga minyak mentah, batu bara, sawit, dan karet.
"Otomatis pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor komoditas khususnya di Kalimantan dan Sumatera tertekan. Pertumbuhan ekonomi di daerah berbasis komoditas prospeknya turun," terang Bhima.
Ketiga, perlambatan ekonomi dunia juga akan berdampak pada sektor keuangan. Investor, menurut Bhima, akan mencari aman dengan mengalihkan dana ke surat utang dan mata uang Yen Jepang. "Kurs Rupiah rentan melemah akibat keluarnya modal asing jangka pendek," kata dia.
Baca juga: Kebutuhan Gula Rafinasi Industri Naik 5%
Tak hanya itu, Bhima mengatakan bahwa investor juga akan menunda masuk ke Indonesia lantaran adanya outlook ekonomi global yang slowdown.
"FDI di tahun 2019 sulit untuk diharapkan. Apalagi ada event Pilpres. Investor cenderung wait and see perbaikan data ekonomi Tiongkok. Tapi unlikely Tiongkok akan membaik dalam waktu dekat, selama perang dagang belum diakhiri," pungkasnya. (OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved