ANAK-ANAK yang mengirimkan surat ke Sinterklas, alias Santa Clause, di Finlandia mesti bersiap-siap patah hati. Amat mungkin surat yang mereka layangkan tidak terbalas. Atau, andai dibalas pun, jawaban Santa akan ditulis dalam bahasa Inggris.
Di negara beribu kota Helsinski itu, ada lebih dari setengah juta orang--sebagian besar anak-anak--yang menulis surat untuk Bapak Natal saban tahun. Mereka yang menyertakan alamat lengkap dan jelas biasanya akan menerima balasan berupa informasi soal Finlandia dan area Lapland, tempat (konon) Sinterklas bermukim.
Namun, tahun ini, demi menyelamatkan keberadaan kantor pos antik milik Sinterklas, hanya akan ada beberapa ribu surat saja yang dibalas. "Itu pun dalam bahasa Inggris," ujar Direktur Surat Konsumer Kantor Pos Ulla Sepala kepada pihak majalah terbitan Finlandia, Seura.
Auli Sihvo, kepala kantor pos Sinterklas yang berlokasi di Rovaniemi, mengatakan kepada Seura bahwa anak-anak di berbagai penjuru dunia menulis surat kepada Sinterklas tentang impian dan kehidupan mereka. Sayangnya, anak-anak tersebut mungkin tidak dapat membayangkan akan menerima jawaban dari Santa.
Akan tetapi, Sihvo meyakinkan bahwa semua surat yang dikirim untuk Sinterklas tahun ini akan tetap dibuka dan dibaca meski mungkin tidak dibalas.
Surat jawaban Sinterklas menjadi salah satu kesuksesan Finlandia dalam mengukir citra negara di kawasan Nordik tersebut.
Tahun lalu, Tiongkok telah menjadi negara dengan pengirim surat terbanyak, mengalahkan negara-negara lain yang sebelumnya mendominasi, macam Inggris dan Polandia.
Dengan surat yang berasal dari ragam negara, jawaban Sinterklas dicetak dalam berbagai jenis bahasa pula. Namun, tahun ini, anak-anak di dunia harus puas dengan respons dalam bahasa Inggris.
Sejauh ini, kantor pos Sinterklas hanya menerima dana minim dari pemerintah. Tahun lalu, mereka mendapat sekitar 84 ribu euro atau Rp1,18 miliar. Tahun ini, kantor pos tersebut memutuskan untuk meniadakan asistensi layanan surat Sinterklas tersebut. Namun, Sihvo tidak menjelaskan berapa banyak penghematan yang didapatkan pihaknya. Sebagai gambaran, jasa layanan pos Finlandia memang terus mengurangi tenaga kerjanya dalam beberapa tahun belakangan. Pada musim gugur lalu, ada 239 pekerja kantor pos yang terpaksa ‘rontok’.(E-2)