Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
“KAMI butuh pembinaan dari pemerintah, jangan pula kami malah dibinasakan,” kata Ebed Boaz Sihotang saat bertemu di sebuah kedai di pesisir Danau Toba, Haranggaol, Simalungun, Sumatra Utara, Jumat (18/1).
Ebed, bersama dua rekannya, Hitjon Siloho dan Robin, ialah petani budi daya ikan nila dengan sistem keramba di perairan Danau Toba.
Mereka resah karena di berbagai kesempatan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan tidak ingin ada lagi keramba apung di Danau Toba. Hal ini diungkapkan Luhut karena mendapat laporan dari Bank Dunia bahwa perairan di Danau Toba sudah tercemar parah. Salah satu penyebab utamanya ialah budi daya keramba ikan.
Pernyataan Menko Kemaritiman ini membuat para petani keramba resah. Menurut Robin, mereka sudah bertani keramba ikan sejak 1998. “Kami menjadi petani keramba karena selalu gagal dalam bercocok tanam. Lagi pula, kontruksi daerah kami yang bertebing-tebing sulit untuk menjadi lahan pertanian,” katanya. Padahal, lanjut Hitjon, warga Desa Haranggaol sudah makmur dari budi daya keramba.
Menurut dia, ada 5.600 keramba yang aktif. Setiap keramba mampu menghasilkan 1 ton ikan nila untuk satu kali masa tanam selama 6 bulan. Sekali panen mereka mendapat untung Rp4 juta per keramba. “Jika dihitung keuntungan per tahun, kami bisa dapat Rp44,8 miliar, atau Rp3,7 miliar per bulan. Ada 700 KK di kampung ini. Jika dibagi rata, pendapatan per KK di atas Rp5 juta per bulan,” sebutnya.
Saat menyambangi keramba-keramba milik warga yang berada di tengah danau, tercium bau busuk dari bangkai-bangkai ikan atau dari pakan yang membusuk. Selain itu, kumpulan keramba itu memang terlihat kumuh.
Ebed mengungkapkan, para petani mengembangkan usahanya secara mandiri. Tidak pernah ada pendampingan dari pemerintah, baik itu soal cara pemeliharaan maupun penataan. Namun, mereka siap jika pemerintah menginstruksikan agar keramba-keramba itu dibuat lebih ramah lingkungan dan terlihat rapi.
Penataan dan pendampingan dari pihak pemerintah atau pun swasta yang paham soal budi daya keramba ini memang sangat dibutuhkan. Para nelayan mungkin bisa meniru keramba milik PT Suri Tani Pemuka, anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, di kawasan Tambun Raya, Simalungun.
Pengelolaan secara profesional dan teknologi tepat guna membuat keramba-keramba ini terlihat bersih dan tidak berbau. Government Relations Manager Japfa Andi Trapsilo mengatakan pihaknya telah memberikan pelatihan maupun pendampingan terhadap para petani tradisional. “Kami selalu terbuka kepada mereka perihal pengelolaan keramba ikan nila ini,” katanya. (Aries Wijaksena/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved