Bulog Yakin tak Ada Lagi Kegaduhan Data Pangan Tahun Ini

Nur Aivanni
10/1/2019 17:01
Bulog Yakin tak Ada Lagi Kegaduhan Data Pangan Tahun Ini
(MI/Ramdani)

DIREKTUR Utama Perum Bulog Budi Waseso meyakini bahwa tidak akan ada lagi kegaduhan terkait perbedaan data pangan di tahun 2019 ini. Pasalnya, pemerintah akan melakukan sinkronisasi terhadap data-data yang dimiliki oleh masing-masing kementerian/lembaga terkait.

"Kita sinkronisasi data itu semua menginduk kepada BPS sehingga nanti tidak ada data sendiri-sendiri. Kalau ada permasalahan kita bahas bareng-bareng. Jadi ngga ada gaduh lagi nanti," katanya usai bertemu dengan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (10/1).

Baca juga: Di Ciracas, Presiden Salurkan Bantuan Sosial PKH ke 1.115 Keluarga

Pertemuan tersebut di luar agenda Menko Perkonomian Darmin Nasution. Selain Budi Waseso, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pun turut hadir dalam pertemuan tersebut. Namun, Enggar enggan memberikan komentar lebih lanjut terkait pertemuan itu.

Lebih lanjut, Budi Waseso menyampaikan bahwa sinkronisasi data pangan tersebut dilakukan agar pemerintah bisa mengambil kebijakan terkait pangan dengan tepat, seperti halnya impor. "Kalau kita memang perlu impor berapa sih sebenarnya yang dibutuhkan," katanya.

Ia pun mencontohkan terkait impor jagung. "Kita kan produksi jagung juga, kenapa kok ada beberapa peternak yang tidak tercukupi kebutuhan jagung. Ini ada yang salah, apakah salah datanya, salah petaninya atau pendistribusiannya. Ini nanti kita akan kaji sehingga ke depan tidak ada lagi kesalahan seperti itu," tuturnya.

Baca juga: Pemerintah akan Terbitkan 10 SBN Ritel

Budi menyampaikan bahwa pembahasan mengenai sinkronisasi data pangan tersebut akan kembali digelar dengan mengundang, antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BPS, Kementerian BUMN dan juga Bulog.

"Sehingga tidak lagi tahun ini nanti ada ketidaksinkronan data, sehingga dalam rangka impor itu bisa stabil, apa kita perlu impor atau tidak. Kalau kita memang perlu impor berapa sih?" tandasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya