Tarif Listrik bakal Naik Mei

MI/JESSICA SIHITE
02/4/2015 00:00
Tarif Listrik bakal Naik Mei
(ANTARA/ADENG BUSTOMI)
PEMERINTAH menunda pelepasan subsidi untuk dua golongan rumah tangga (R1), yakni R1 dengan batas daya 1.300 VA dan R1 dengan batas daya 2.200 VA. Penundaan itu dilakukan sejak Januari hingga April tahun ini.

Dengan demikian, tarif dasar listrik (TDL) untuk dua golongan itu akan tidak berubah hingga April ini. "Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM menunda kenaikan tarif dasar listrik untuk dua golongan R1. Alasannya ada penaikan harga BBM dan menimbang daya beli masyarakat," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Saleh menuturkan pemerintah belum merencanakan adanya pencabutan subsidi untuk dua golongan itu. Namun, di dalam Peraturan Menteri No 9/2015 tentang Perubahan atas Permen No 31/2014 tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan PLN, dikatakan dalam Pasal 5 ayat 2 bahwa pelaksanaan adjustment tariff (tarif penyesuaian) untuk golongan R1 1.300 VA dan R1 2.200 VA dilaksanakan per 1 Mei 2015.

Bukan hanya harga BBM yang naik, harga elpiji 12 kilogram pun kembali naik per 1 April. Kali ini sebesar Rp666,67 per kg, atau Rp8.000 per tabung. Dengan demikian, harga elpiji 12 kg yang semula Rp134.000 per tabung pada Maret silam menjadi Rp142.000 per tabung.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan penaikan harga elpiji dilakukan untuk menutup kerugian penjualan BBM jenis premium. Harga premium yang dijual di wilayah Jawa, Madura, dan Bali dipatok senilai Rp7.400 per liter dan di luar Jamali senilai Rp7.300 per liter. Padahal, harga keekonomian premium menurut Pertamina mencapai Rp8.000/liter.

"Premium sesuai keterangan Dirjen Migas di hadapan Komisi VII (DPR) kemarin masih minus Rp600 per liter," ujar Bambang.

Di kesempatan terpisah, Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang diketuai Faisal Basri meminta Pertamina segera memangkas inefisiensi. Ketidakefisienan masih terlihat dari lebih mahalnya harga premium ketimbang BBM RON 92 atau setara pertamax di pasar dunia. Berdasarkan data yang diperoleh tim, harga gasolin (RON 92) di Global Petrol Prices sekitar Rp6.700/liter.

VP of Corporate Communication of Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan perhitungan harga itu disusun Pertamina bersama dengan pemerintah. "Tetapi, kami memang belum efisien, maka kami lakukan inisiatif langkah-langkah untuk efisiensi. Salah satunya sentralisasi pengadaan minyak mentah dan BBM melalui ISC yang menghemat US$22 selama Januari-Februari."

Subsidi angkot
Dalam kaitan meredam dampak penaikan harga BBM, Ketua Bidang Riset dan Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyarankan pemerintah merealisasikan subsidi operasional untuk angkutan umum perkotaan (angkot). Kepala daerah diharapkan berinisiatif mempercepat program angkutan umum pada wilayah mereka.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena meminta bantuan revitalisasi angkutan umum dengan subsidi impor suku cadang dan penurunan suku bunga. "Ekonomi akan semakin melamban kalau mobilitas orang dan barang tidak diprioritaskan," ujar Eka. (Bow/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya