Inflasi Terkendali 2019 Lebih Optimistis

Fetry Wuryasti fetry
03/1/2019 09:45
Inflasi Terkendali 2019 Lebih Optimistis
(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

DALAM beberapa tahun terakhir, tingkat inflasi di Indonesia sudah tidak mengkhawatirkan lagi walaupun ada kenaikan harga komoditas tertentu di awal 2017 yang disebabkan kenaikan harga beras. Pada awal 2018, inflasi disebabkan tarif angkutan dan harga telur ayam.

"Akan tetapi, inflasi kita di 2018 lebih rendah daripada di 2017. Itu menunjukkan kita berhasil mengendalikan inflasi. Sudah seharusnya kita menggeser target inflasi ke arah yang lebih rendah," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat pembukaan perdagangan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin.

Badan Pusat Statistik (BPS) pun mencatat inflasi selama 2018 sebesar 3,13%, lebih rendah daripada di 2017 yang sebesar 3,61%. Inflasi pada Desember 2018 tercatat 0,62%.

Indonesia, kata Darmin, juga berhasil pada hal yang lebih luas, seperti penurunan angka kemiskinan, rasio Gini, dan tingkat pengangguran.

"Itu bagian penting dari pertumbuhan ekonomi dengan kualitas yang baik. Dengan demikian, kita punya modal untuk optimistis bahwa di 2019 bisa mencapai kinerja yang lebih baik juga," tukasnya.

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) pun menghitung, dalam lima tahun terakhir, pemerintah berhasil menurunkan inflasi bahan makanan hingga 36%.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengungkapkan rata-rata inflasi bahan makanan dari 2009 hingga 2013 ialah sebesar 8,04%. Selama periode 2014 hingga 2018, rata-rata inflasi bahan makanan hanya 5,17%.

Dari dua periode tersebut, rata-rata inflasi bahan makanan lebih dapat dikendalikan menurun hingga 36%. "Capaian pengendalian harga ini sangat penting karena harga pangan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemiskinan," ujar Arif Budimanta di Jakarta, kemarin.

"Data ini menunjukkan bahwa pemerintah mampu menekan laju kenaikan harga, terutama di sektor pangan. Ini tentunya menjadi cerminan dari komitmen yang kuat dari pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat," ujarnya.

Harga beras
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan harga beras yang masih terus naik ialah suatu hal yang wajar mengingat Desember merupakan musim tanam. Artinya, tidak ada hasil padi yang bisa dipanen. Jumlah komoditas terbatas, sementara angka kebutuhan tetap membuat harga melambung.

Namun, jika dilihat secara tahunan, Suhariyanto mengimbau pemerintah untuk bisa melakukan upaya efektif agar harga beras bisa menunjukkan tren penurunan.

"Yang paling perlu diperhatikan dari banyak komoditas itu ialah beras karena bobotnya tinggi terhadap inflasi, sampai 3,8%. Jadi, kenaikan yang tipis saja akan berpengaruh," jelasnya.

Sementara itu, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani secara rata-rata dilaporkan naik 2,35% dari Rp5.116 per kilogram pada November menjadi Rp5.237 per kilogram pada Desember 2018. Hal serupa terjadi di tingkat penggilingan.

Rata-rata harga GKP melonjak 2,27% dari Rp5.212/kg pada November menjadi Rp5.330/ kg pada Desember 2018.

Untuk komoditas beras, BPS juga mencatat adanya kenaikan untuk setiap kualitas, mulai yang terendah hingga premium. (Pra/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya