Tantangan Ekonomi Tahun 2019 Harus Dijawab Berkesinambungan

Fetry Wuryasti
02/1/2019 14:07
Tantangan Ekonomi Tahun 2019 Harus Dijawab Berkesinambungan
()

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan tantangan perekonomian tahun 2019 harus bisa dijawab secara sistematik dan secara berkesinambungan. Darmin menyebutkan, beberapa tahun terakhir, tingkat inflasi di Indonesia sudah tidak mengkhawatirkan lagi.

Tahun 2017 lalu, inflasi disebabkan oleh kenaikan harga beras. Sementara tahun 2018, inflasi disebabkan karena tarif angkutan dan harga telur ayam.

Baca juga: Waskita Beton Precast Optimistis Tatap 2019

"Tapi inflasi kita tahun 2018 lebih rendah dari tahun 2017.  Menunjukkan kita berhasil mengendalikan inflasi. Sudah seharusnya kita menggeser target inflasi ke arah yang lebih rendah," kata Darmin  di pembukaan awal tahun 2019 perdagangan pasar modal, di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/1).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi selama tahun 2018 sebesar 3,13% lebih rendah dari 2017 yang sebesar 3,61%. Inflasi pada bulan Desember 2018 tercatat 0,62%.

Indonesia, kata Darmin, juga berhasil pada hal yang lebih luas seperti penurunan angka kemiskinan, gini rasio, dan penurunan tingkat pengangguran.

"Itu bagian penting dari pertumbuhan ekonomi dengan kualitas yang baik. Dengan demikian kita punya modal untuk optimistis tahun 2019 bisa capai kinerja lebih baik juga," tandasnya.

Khusus di pasar modal, bekerja cepat dan keras diperlukan agar pasar tetap kondusif.  Sehingga pasar modal dapat membiayai dan mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus investasi.

Baca juga: 2019, BEI Optimistis IPO Emiten bisa Lebih dari 57

Darmin mencatat, dari beberapa tahun lalu, pendalaman pasar keuangan selalu disuarakan namun tidak pernah cukup berhasil, seperti mengangkat pertumbuhan sektor syariah dari jebakan tertahan di 5%. Pelaku pasar harus bisa meyakinkan masyarakat agar simpanannya dilakukan di pasar keuangan,untuk menciptakan pendalaman pasar keuangan.

"Saya berpikir barangkali kita terlalu banyak berpikir supply side-nya. Untuk mengejar pembiayaan syariah tumbuh di atas 5% kita belum mampu. Kemarin kita terbantu karena BPD yang berpindah ke syariah. Masalah ada di demand side-nya. Ini yang harus dicari upaya bagaimana mendorong permintaan investasi terutama syariah di pasar modal," tukas Darmin. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya