Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH sukses membukukan pencapaian penerimaan negara tembus 100% dengan defisit APBN di bawah 2% pada 2018. Keberhasilan itu diapresiasi sekaligus menjadi modal yang bagus untuk meng-arungi tantangan di 2019.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan di Jakarta, Senin (31/12/2018), bahwa realisasi penerimaan negara pada 2018 sebesar Rp1.896,6 triliun dari target APBN Rp1.894,72 triliun.
“Pada tahun ini untuk pertama kalinya Kementerian Keuangan tidak mengundang-undangkan APBN perubahan dan tahun 2018 ditutup dengan penerimaan negara sebesar 100%,” jelasnya.
Penerimaan negara itu, imbuh Sri, berasal dari pajak, cukai, penerimaan negara bukan pajak, dan hibah. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menyebutkan, untuk belanja negara realisasinya sebesar 97% dari alokasi yang ditetapkan Rp2.220,65 triliun.
Dengan realisasi tersebut, defisit anggaran berada di bawah 2%, tepatnya 1,72%.
“Pembiayaan mengalami kontraksi, dengan defisit APBN sebesar 1,72% dari PDB, jauh lebih rendah daripada angka UU APBN 2018 sebesar 2,19%. Ini adalah defisit terkecil sejak 2012,” terang Menkeu.
Tak hanya itu, keseimbangan primer pun sebesar Rp4,1 triliun. “Itu surplus keseimbangan primer sejak 2011. Prestasi!” tegasnya. Ia pun menekankan pihaknya akan terus menjaga APBN dan keuangan negara secara profesional, hati-hati, dan bertanggung jawab.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengapresiasi keberhasilan pemerintah. Menurutnya, pencapaian penerimaan negara 100% dengan defisit APBN di bawah 2% merupakan modal yang bagus dalam memasuki 2019 yang penuh tantangan.
“Pencapaian ini akan memberikan sentimen positif bagi para pelaku usaha dan juga investor,” ujarnya, kemarin.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah harus tetap berhati-hati karena membaiknya fiskal tidak berarti dan tidak membuat perekonomian akan tahan terhadap guncang-an. Dia menekankan, perekonomian akan tetap rentan terhadap gejolak eksternal.
“Justru di tengah perbaikan fiskal itu, kita mengalami pemburukan neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Artinya, walau kinerja fiskal kita membaik, kinerja ekspor kita melambat dan mengakibatkan defisit transaksi berjalan melebar.
Rupiah terancam pelemahan ketika arus modal tidak mampu menutup lebarnya defisit transaksi berjalan,” ucap Piter.
Semakin baik
Piter pun memprediksi perang dagang atau faktor eksternal lain tidak akan terlalu banyak mewarnai perekonomian di 2019. Kondisi perekonomian Indonesia, dikatakannya, akan dalam kondisi aman.
“Tahun 2019 pemerintah harus mengupayakan neraca perdagangan kembali surplus dan defisit transaksi berjalan menyempit. Selain fokus ke neraca perdagangan dan transaksi berjalan, pemerintah harus mengevaluasi kenapa aliran FDI (foreign direct investment) melambat selama dua tahun terakhir,” tukas Piter.
Senada, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai NasDem Johnny G Plate mengapresiasi kinerja pemerintah dalam penerimaan negara dan menekan defisit APBN. “Itu berarti manajemen penerimaan negara sudah semakin baik. Tata kelola keuangan negara sudah semakin baik.’’
Ia menambahkan, pencapai-an itu menjadi awal yang baik bagi perekonomian Indonesia di 2019. Ia juga berharap capai-an tersebut bisa dipertahankan Kementerian Keuangan.
“Ini memang awal yang baik. Ini tidak hanya mengenai penerimaan negara yang baik, tapi juga mengenai kualitas APBN kita yang menjadi lebih baik. Kita harapkan pengelolaan keuangan negara tahun depan lebih bagus lagi,” pungkas Johnny. (X-8)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved