Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEINGINAN Presiden Joko Widodo yang mengharapkan pasar modal menjadi salah satu pendorong akselerasi pembangunan yang lebih cepat dihadapkan kepada stabilitas makro ekonomi baik internal maupun eksternal. Terlebih selama ini volatilitas pasar modal Indonesia erat kaitannya dengan kondisi ekonomi global.
Meski begitu Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menilai tahun 2019 sendiri diperkirakan pasar modal akan lebih baik dibandingkan 2018 jika memang tercapainya dua indikator global.
"Di 2018 faktor yang membuat fluktuasi pasar masih terkait kenaikan suku bunga Amerika dan terkait dengan masalah ekonomi Argentina dan Turki karena tidak bisa mengatasi gejolak ekonomi. Selain itu ada faktor yang signifikan di 2018 terkait dengan perang dagang yang dipicu Amerika dan China sehingga berdampak kepada volatiliitas," terang Mirza Adityaswara kepada Media Indonesia di penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (28/12).
Namun dirinya menyatakan Indonesia cukup bersyukur karena ditengah situasi global yang tidak mudah tersebut kurs rupiah pelemahannya relatif terkendali dengan hanya sekitar 6% - 7%. Sedangkan negara yang terkena krisis seperti Turki pelemahan mata uangnya bisa mencapai 51%.
Pelemahan kurs Indonesia sendiri hingga saat ini karena adanya persoalan defisit ekspor impor barang dan jasa. Tetapi Mirza melihat jika dibandingkan tahun ini pada 2019 nanti Indonesia memiliki peluang yang lebih baik.
"Di 2019 kenaikan suku bunga Amerika masih akan terjadi, tetapi tidak sebanyak 2018 yang mencapai 4 kali kenaikan. Di 2019 kenaikannya diperkirakan 2 kali, meski pasar memiliki keyakinan kenaikan tersebut hanya satu kali saja. Sehingga ada harapan bahwa faktor volatilitas kurs yang datang dari kenaikan suku bunga amerika sudah lebih mereda," tutur Mirza.
Faktor kedua yang menurut Mirza sulit diprediksi adalah faktor dari Presiden Trump, khususnya terkait kebijakannya terkait perang dagang dengan Tiongkok apakah akan terus berlanjut atau tidak. Mirza sendiri berharap kondisi perang dagang tersebut sudah mereda pada 2019.
Oleh sebab itu Mirza menilai jika kedua faktor tersebut dapat terjadi, yakni kenaikan suku bunga Amerika hanya sekali dan perang dagang yang mereda diharapkan situasi pasar modal Indonesia dan situasi ekonomi di tahun 2019 akan lebih baik dibandingkan tahun 2018.
"Kalau dua hal itu terjadi, situasi pasar modal di 2019 diharapkan akan lebih baik dari 2018 dan situasi ekonomi kita juga akana lebih bagus," tutur Mirza.
Saat ditanyakan apakah di 2019 nanti capital outflow akan terjadi, Mirza menilai jika dua faktor diatas terlaksana bukan capital outflow yang akan terjadi, namun justru akan terjadi capital inflow. Namun saat ditanyakan prediksi akan besaran capital inflow di 2019, Mirza tidak mau menjelaskan lebih lanjut. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved