Dry Dam Sukamahi dan Ciawi Untuk Atasi Banjir Jakarta

Dero Iqbal Mahendra
26/12/2018 10:04
Dry Dam Sukamahi dan Ciawi Untuk Atasi Banjir Jakarta
(MI/Dero Iqbal Mahendra)

PRESIDEN Joko Widodo beserta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, meninjau pembangunan Waduk Sukamahi dan Ciawi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Kedua bendungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian solusi untuk mengatasi banjir di Jakarta.

"Kita ingin menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Kita bekerja ini di hulunya. Jadi yang mau kita kerjakan sekarang adalah Waduk Sukamahi dan Waduk Ciawi. Hulu dan hilir semuanya harus dikerjakan. Hulunya sudah, hilirnya di Jakarta sendiri, Kementerian PUPR akan terus mengerjakan pelebaran kali Ciliwung,” kata Presiden Jokowi seusai meninjau pembangunan Waduk Sukamahi yang kemudian dilanjutkan ke Waduk Ciawi, Rabu (26/12).

Jokowi menjelaskan saat ini progres pembangunan untuk Bendungan Ciawi sudah 9% dan Bendungan Sukamahi sudah 15%. Bendungan ini ditargetkan selesai konstruksinya pada pertengahan 2019.

 

Baca juga: Pembangunan Bendungan Sadawarna di Subang Dimulai

 

Bendungan Sukamahi dan Ciawi merupakan bendungan tipe kering (dry dam) yang pada musim kemarau akan kering dan baru akan digenangi saat musim hujan. Kedua bendungan memiliki daya tampung 8,13 juta meter kubik dan berfungsi menahan aliran permukaan yang berasal dari daerah hulu Gunung Gede dan Gunung Pangrango selama kurang lebih 4 jam dan mengalirkannya ke Sungai Ciliwung melalui terowongan secara konstan dengan debit rencana Q50.

Dengan demikian jika di Jakarta juga terjadi hujan deras akan ada tambahan waktu untuk mengalir kan air ke laut. Sebelum ada bendungan, debit air sebesar 56,52 m3/detik pada saat hujan, dengan adanya bendungan debit tersebut dapat dikurangi menjadi 40 m3/detik. 

Dengan adanya bendungan ini, debit air yang ke Bendungan katulampa akan berkurang dan menjadi 23% dan air yang masuk ke Jakarta akan berkurang hingga 30%.

Dua waduk tersebut ditargetkan selesai konstruksinya pada pertengahan 2019. Selain pembangunan waduk dan normalisasi Sungai Ciliwung, dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga diperlukan melalui pembersihan drainase, sungai-sungai kecil, pemeliharaan waduk, bahkan pembangunan waduk baru di Jakarta.

Saat ini Kementerian PUPR juga tengah menyelesaikan pembangunan sudetan yang akan mengalirkan debit banjir Sungai Ciliwung sebesar 60 m3/detik ke Kanal Banjir Timur yang ditargetkan selesai dalam waktu dekat.

Dengan tambahan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi ke dalam sistem, reduksi puncak banjir di Pintu Air Manggarai menjadi 577,05 meter kubik per detik dari sebelumnya 655,03 meter kubik per detik atau 11,9%.

Kontrak pembangunan Waduk Ciawi ditandatangani pada 23 November 2016 antara Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dengan kontraktor  PT Brantas Abipraya-Sacna KSO dengan nilai pekerjaan konstruksi Rp 757,8 miliar melalui kontrak tahun jamak (multi years). Waduk ini menampung aliran Sungai Cisarua, Sungai Cibogo dan anak Sungai Ciliwung dengan volume tampungan 6,45 juta m3.

Sementara penandatanganan kontrak pembangunan Waduk Sukamahi dengan daya tampung 1,68 juta m3, senilai Rp 436,97 miliar dilakukan pada 20 Desember 2016 dengan kontraktor PT Wijaya Karya-Basuki KSO. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya