Industri Manufaktur Jadi Sektor Andalan Dongkrak Nilai Ekspor

Fetry Wuryasti
25/12/2018 14:00
Industri Manufaktur Jadi Sektor Andalan Dongkrak Nilai Ekspor
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

PEMERINTAH terus berupaya menggenjot nilai ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Dalam hal ini, industri manufaktur akan menjadi sektor yang diandalkan guna berkontribusi lebih memperkuat struktur perekonomian nasional.

"Saat ini, ekspor produk industri manufakur memberikan kontribusi mencapai 72,28% dari total ekspor nasional," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, melalui rilis yang diterima, Selasa (25/12).

Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor produk manufaktur terus meningkat setiap tahun. Hingga Desember 2018, nilai ekspor industri manufaktur mampu menembus US$130,74 miliar atau naik 4,51% dibanding capaian tahun 2017 sebesar US$125,1 miliar.

Capaian ekspor produk manufaktur tahun 2016 sekitar US$110,5 miliar dan tahun 2015 di angka US$108,6 miliar.

 

Baca juga: Jonan: BBM dan Listrik Lokasi Tujuan Wisata Dijamin Cukup

 

Menurut Menperin, dalam upaya mendorong peningkatan ekspor dari industri manufaktur, diperlukan langkah untuk memacu investasi atau ekspansi. Sehingga bisa menggenjot kapasitas industri, dibutuhkan tambahan investasi untuk perluasan usaha.

Hingga Desember 2018, investasi industri nonmigas diperkirakan mencapai Rp226,18 triliun. Selain menumbuhkan populasi industri, investasi dapat memperdalam struktur industri di dalam negeri sehingga berperan sebagai substitusi impor.

"Populasi industri besar dan sedang bertambah sebesar 6 ribu unit usaha. Industri kecil mengalami penambahan jumlah industri yang mendapatkan izin sebanyak 10 ribu unit usaha," paparnya.

Dari capaian tersebut, total tenaga kerja di sektor industri yang telah terserap sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4% dibanding tahun 2015 di angka 15,54 juta orang.

Oleh karena itu, pemerintah terus merancang kebijakan pemberian insentif fiskal yang lebih menarik sehingga dapat menggairahkan iklim usaha.

"Misalnya, untuk industri otomotif, kami mengusulkan harmonisasi tarif dan revisi besaran PPnBM," imbuhnya.

Upaya strategis itu salah satunya guna mendongkrak produktivitas kendaraan sedan karena sesuai permintaan pasar ekspor saat ini. Sebab, produksi industri otomotif di Indonesia masih didominasi jenis SUV dan MPV.

Pasar yang potensial untuk ekspor sedan, misalnya ke Australia. Peluangnya mencapai 1,3 juta unit. Sementara, jumlah pengapalan untuk kendaraan roda empat produksi Indonesia ke mancanegara saat ini sebesar 200 ribu unit per tahun.

Pada Januari-Oktober 2018, industri otomotif di Indonesia mengekspor kendaraan roda dua dengan total nilai sebesar US$1,3 miliar, sedangkan, untuk kendaraan roda empat, dengan nilai US$4,7 miliar. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya